Minggu, 15 Nov 2020 14:23 WIB

Terpopuler Sepekan: COVID-19 Disebut Sudah 'Sindemi', Ini Artinya

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Virus Corona COVID-19 (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Sejak virus Corona COVID-19 ditetapkan sebagai pandemi sejak mewabah di dunia pada awal tahun 2020. Belakangan, sejumlah ilmuwan dunia menyebut COVID-19 bukan lagi pandemi, melainkan sudah menjadi sindemi.

Sindemi sejatinya adalah akronim yang menggabungkan kata sinergi dan pandemi.

Sebenarnya apa itu sindemi?

Menurut Pemimpin Redaksi jurnal ilmiah The Lancet, Richard Horton, sindemi dicirikan sebagai adanya interaksi antara masalah kesehatan dan kondisi lingkungan. Misalnya, kondisi COVID-19 di suatu negara bisa diperparah apabila masyarakatnya juga memiliki kesehatan yang buruk sebelumnya.

"Sindemi dicirikan dengan interaksi biologis dan sosial antara kondisi dan keadaan, interaksi yang meningkatkan kerentanan seseorang terhadap bahaya atau memperburuk hasil kesehatannya," jelas Horton.

Ahli epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman, memberikan contoh maksud pengertian sindemi yang dimuat dalam jurnal The Lancet tersebut. Sindemi memiliki beberapa aspek yang tak hanya berdasarkan dari ilmu wabah saja, tetapi juga termasuk aspek sosial dan ekonomi.

"Tetapi sudah melihat aspek sosial, ekonomi, jadi misalnya oh kenapa COVID-19 ini di satu negara parah banget, karena dikatakanlah di Amerika itu obesitasnya tinggi, penyakit jantung orangnya banyak, lansia banyak, ketidaksetaraan dalam akses pelayanan kesehatan juga terjadi, nah itu sindemi," ucap Dicky.

Sindemi lebih parah dari pandemi?

Dicky menjelaskan sindemi bukan berarti satu tingkat di atas pandemi. Sindemi merupakan gabungan masalah kesehatan atau kombinasi dari tidak hanya satu penyakit, tetapi dari beberapa penyakit. Misalnya, perpaduan antara COVID-19 dengan diabetes, kanker, dan juga jantung.

"Kalau misalnya COVID-19 ini dilihat dari sisi sindemi sebetulnya ya tetap pandemi juga, karena itu bukan istilah epidemiologi," ungkap Dicky.

"Nah kalau dari sisi pandemi ilmu wabah itu adanya local outbreak, kemudian ada epidemi, ada pandemi, ada juga endemik," lanjutnya.

Sindemi istilah baru?

Sindemi bukanlah sebuah istilah baru. Kata ini diciptakan oleh antropolog medis asal Amerika Serikat (AS), Merill Singer, pada tahun 1990-an untuk menjelaskan situasi ketika ada dua penyakit atau lebih yang saling berinteraksi sedemikian rupa, sehingga menyebabkan kerusakan yang lebih besar ketimbang dampak masing-masing dari penyakit ini.

"Dampak dari interaksi ini juga difasilitasi oleh kondisi sosial dan lingkungan yang entah bagaimana dapat menyatukan kedua penyakit atau membuat populasi menjadi lebih rentan terhadap dampaknya," kata Singer kepada BBC.



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)