Jumat, 13 Nov 2020 09:02 WIB

Pakar Sebut COVID-19 Sudah Jadi 'Sindemi', Bukan Lagi Pandemi

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Negara China, Singapura, dan Jepang adalah negara yang berhasil menghadapi wabah COVID-19 dengan baik. Namun mereka harus mengantisipasi adanya gelombang kedua. Ilmuwan sebut COVID-19 sebagi sindemi. (Foto ilustrasi: Getty Images)
Jakarta -

Sejak kemunculannya di akhir Desember 2019 lalu, virus Corona COVID-19 sudah dikenal sebagai pandemi. Tetapi, beberapa ilmuwan di dunia menyebut virus Corona bukan sebagai pandemi lagi, melainkan sindemi.

Sindemi merupakan usaha menyatukan sinergi dan pandemi. Disebut sebagai sindemi saat ada dua atau lebih penyakit berinteraksi.

Akibatnya, sindemi ini bisa menyebabkan efek merusak yang lebih besar, daripada jumlah korban dari kedua penyakit tersebut. Contoh sindemi ini misalnya perpaduan antara COVID-19 dengan diabetes, kanker, dan juga jantung.

"Sindemi dicirikan dengan interaksi biologis dan sosial antara kondisi dan keadaan, interaksi yang meningkatkan kerentanan seseorang terhadap bahaya atau memperburuk hasil kesehatannya," jelas Richard Horton, Pemimpin Redaksi jurnal ilmiah The Lancet.

"Mendekati COVID-19 sebagai sindemi akan mengundang visi yang lebih besar, yang mencakup pendidikan, pekerjaan, perumahan, pangan, dan lingkungan," lanjutnya.



Simak Video "Ahli Sebut COVID-19 Sebagai Sindemi Bukan Pandemi"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)