Senin, 16 Nov 2020 14:17 WIB

Muncul Teori Cocokologi di Video Seks Mirip Artis, Ini Kata Psikolog

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, sebuah video seks yang disebut-sebut mirip artis viral di media sosial. Mulai dari Gisella Anastasia atau Gisel, Jessica Iskandar, hingga Anya Geraldine.

Hal ini pun memancing para netizen untuk cocokologi alias mencocok-cocokkan berbagai informasi yang dilihat dari video tersebut, dengan apa yang mereka lihat pada artis yang mirip dengan pelaku video tersebut. Mulai dari baju, rambut, hingga gorden yang ada di dalam video.

Menanggapi ini, psikolog Dian Wisnuwardhani, M.Psi mengatakan memirip-miripkan penampilan fisik (physical appearance) dan gerakan fisik (physical movement) yang terjadi di dalam video tersebut memang wajar dilakukan masyarakat. Sehingga hal ini bisa membentuk stigma untuk memperkuat prasangka mereka.

"Memirip-miripkan, mencoba mematchingkan physical appearance, physical movement yang terjadi di dalam video itu memang wajar dilakukan oleh masyarakat kita. Karena mereka memasukan segala informasi, sehingga membentuk sebuah stigma. Dan stigma itulah yang memperkuat prasangka mereka bahwa itu memang benar asli," kata Dian pada detikcom, beberapa waktu lalu.

"Teori cocokologi dari masyarakat ini, mereka berusaha mencocok-cocokkan informasi yang mereka dapatkan, yang ingin mereka konfirmasi benar. Mereka menambah-nambahkan informasi yang memang informasi yang mereka buat untuk mereka percaya. Mereka tidak memasukkan informasi lain yang berbeda," ujarnya.

Menurut Dian, hal ini menjadi suatu kelemahan masyarakat dalam mengelola informasi. Seharusnya saat seseorang mengelola informasi, tidak hanya mengelola informasi yang sama, tetapi juga informasi yang berbeda, agar bisa mendapatkan keputusan.

"Jadi kalau kita mengelola informasi itu, satu informasi yang sama apa, yang tidak sama apa, kontra dari informasi itu apa. Jadi kita bandingkan dan kita pikirkan, kita analisa baru kita mengeluarkan keputusan apa yang harus kita lakukan. Apa kita menontonnya, apakah kita mendiamkannya, atau menyebarkannya," jelasnya.



Simak Video "Toxic Positivity, Racun Dibalik Ucapan Semangat"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)