Senin, 16 Nov 2020 17:39 WIB

Psikolog Sebut Tak Ada Kaitan Tingkat Religiusitas dan Kesehatan Mental

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
A man sitting at the end of a bed, deep in solemn thought. Foto: Dok. iStock
Jakarta -

Selama pandemi COVID-19, kesehatan fisik bukanlah satu-satunya yang perlu dijaga, tetapi kesehatan mental juga perlu diperhatikan.

Kesadaran kesehatan mental di masyarakat Indonesia disebut mengalami peningkatan selama pandemi COVID-19. Tentu ini menjadi kabar baik, mengingat sebagian orang cenderung hanya memperhatikan kesehatan fisik saja.

Namun, meski dikabarkan mengalami peningkatan, psikolog klinis Rena Masri mengatakan bahwa masih ada masyarakat yang salah kaprah dalam memahami apa itu kesehatan mental.

Rena menemukan, banyak orang yang bertanya apakah ada pengaruh antara gangguan kesehatan mental dengan rendahnya kadar religiusitas?

Padahal, kesehatan mental bisa dipengaruhi oleh banyak hal dan religiusitas bukanlah satu-satunya faktor pengaruh kesehatan mental seseorang.

"Religiusitas mempengaruhi rasa nyaman, tenang tapi tentunya penyebab gangguan kesehatan mental bukan hanya itu. Ada stressor tertentu di mana tekanan berat, kapasitas kita untuk menghadapi itu (kurang sehingga) muncul depresi," kata Rena dalam diskusi media bersama Halodoc, dikutip dari CNNIndonesia, Rabu (11/11/2020).

Lebih lanjut, Rena menjelaskan bahwa religiusitas adalah hal penting, namun perlu upaya yang lebih banyak untuk benar-benar menjaga kesehatan mental. Contohnya, melakukan konsultasi dengan tenaga profesional.

Berikut hal yang salah dalam memahami kesehatan mental yang perlu dipahami.

Self diagnosis

Selain religiusitas, Rena juga mengamati masih banyak orang yang melakukan self diagnosis. Banyak di antara mereka yang hanya bermodal dari membaca ciri-ciri gangguan kesehatan mental untuk mendiagnosis diri sendiri.

Menurut Rena, diagnosis harus dilakukan oleh ahli atau tenaga profesional. Pasalnya, mereka tidak hanya bisa mendiagnosis, tetapi tenaga profesional juga dapat memberikan upaya-upaya dalam pemulihan kesehatan mental seseorang.

Selain itu, Rena juga menemukan pemikiran salah kaprah yang lain, yakni sebagian masyarakat menganggap orang yang mengalami gangguan kesehatan mental tidak bisa produktif.

"Enggak juga. Ada upaya biar orang tetap produktif dan bekerja, tapi pekerjaan yang sesuai kondisinya, sehingga tidak menambah tekanan tapi sosialisasi tetap dapat," jelasnya.

Cara menyehatkan mental

Menurut Founder Eka Sukma Yoga Foundation, Eka Suka Putra, ada banyak cara untuk menyehatkan mental dan salah satunya adalah dengan banyak tertawa.

"Tertawa itu punya banyak manfaat: kesehatan tubuh, kedamaian pikiran, keseimbangan emosi, tapi harus dilakukan dengan benar," ucap Eka Sukma Putra, Founder Eka Sukma Yoga foundation kepada CNNIndonesia.

Selain itu, Eka mengatakan, latihan napas juga diperlukan dalam mengatur tingkatan emosi, kecemasan, serta menurunkan risiko depresi. Menurutnya, latihan yang diperlukan adalah latihan menyadari napas.

"Napas digerakkan oleh saraf otonom tanpa sadar. sekarang pikiran sadar ini digunakan untuk menikmati saraf tak sadar itu. Biarkan napas berjalan, tanpa berusaha untuk menggerakkannya, biarkan berjalan alami," ujarnya.

"Rasakan dengan sadar ada udara yang masuk dan ada yang keluar," tambahnya.

Baca juga



Simak Video "Epidemiolog Soroti Pemerintah soal Penerapan UU Karantina Kesehatan"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)