Sabtu, 21 Nov 2020 16:15 WIB

CDC Catat Kasus Baru, Ini Gejala Virus Chapare Mematikan-Menular Antarmanusia

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
ilustrasi sakit Foto: iStock
Jakarta -

Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) baru-baru ini melaporkan kasus baru virus Chapare. Virus Chapare ini juga disebut CDC bisa menular antarmanusia dan sama bahayanya seperti demam berdarah dengue yang disebabkan Ebola.

"Hingga saat ini, hanya ada satu kasus baru virus Chapare yang dikonfirmasi, penyakit mirip Ebola yang sebelumnya muncul di pedesaan provinsi Chapare di Bolivia pada tahun 2004 dan kemudian menghilang," sebut CDC dalam pernyataan barunya Senin, pekan ini.

Mengapa disebut mematikan?

Ciri-ciri penyakit dari virus yang disebut berasal dari hewan pengerat ini sama seperti demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan Ebola. Pasalnya, dari laporan kasus di tahun lalu, ada 3 orang yang meninggal dari 5 orang yang terinfeksi virus Chapare.

"Tiga dari lima pasien yang dikonfirmasi dari wabah 2019 adalah petugas kesehatan, tertular saat menangani pasien yang terinfeksi virus Chapare," menurut pernyataan CDC yang dimuat beberapa hari lalu.

Chapare mammarenavirus adalah anggota dari keluarga virus Arenaviridae dan menyebabkan demam berdarah, disebut demam hemoragik Chapare. Arenavirus biasanya menyebar ke manusia melalui kontak langsung dengan hewan pengerat yang terinfeksi atau melalui kontak tidak langsung seperti melalui urine atau feses (kotoran) hewan pengerat yang terinfeksi.

Apa saja gejala virus Chapare?

Menurut CDC, berkembangnya gejala dari mulai terinfeksi virus Chapare beragam, mulai dari 4 hingga 21 hari. Ada beberapa gejala virus Chapare yang dilaporkan seperti berikut.

Demam

Sakit kepala

Nyeri sendi dan otot

Sakit di belakang mata

Sakit perut

Muntah

Diare

Gusi berdarah

Ruam

Lekas marah

Meski begitu CDC menyebut virus Chapare kecil kemungkinan menjadi pandemi. Hal ini disebabkan penularan virus Chapare antarmanusia terjadi melalui cairan tubuh, jarang menyebar seperti influenza atau COVID-19.

"Demam berdarah seperti Ebola jarang menyebar seluas penyakit pernapasan seperti flu atau COVID-19," kata Colin Carlson, peneliti Universitas Georgetown yang mempelajari penyakit zoonosis, kepada Live Science.



Simak Video "Mengenal Norovirus yang Kini Serang China"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)