Senin, 23 Nov 2020 14:20 WIB

Jokowi Minta Libur Panjang Akhir Tahun Dikurangi, Efektif Cegah COVID-19?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kepadatan kendaraan menuju Jalan Raya Puncak, Gadog, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (22/8/2020). Tingginya antusias warga untuk berlibur di kawasan Puncak Bogor pada libur panjang Tahun Baru Islam 1 Muharam 1442 Hijriah dan libur akhir pekan membuat kepadatan terjadi disejumlah titik, Sat Lantas Polres Bogor memberlakukan sistem buka tutup jalur dan sistem lawan arus (contraflow) untuk mengurai kemacetan. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/hp. Jokowi minta libur panjang akhir tahun dikurangi, efektifkah cegah COVID-19? (Foto: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo meminta libur panjang akhir tahun dikurangi. Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, jumlah kasus COVID-19 melonjak usai libur panjang.

Arahan presiden tersebut disampaikan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy di YouTube Sekretariat Presiden, Senin (23/11/2020).

"Yang berkaitan dengan masalah libur cuti bersama akhir tahun, termasuk libur pengganti cuti bersama hari raya Idul Fitri, Bapak Presiden memberikan arahan supaya ada pengurangan," kata Muhadjir.

Menurut Kepala Departemen Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono persoalan terkait lonjakan kasus COVID-19 berada di kerumunan. Dalam hal ini, menurut Miko, yang perlu disoroti adalah risiko kerumunan yang muncul.

"Jadi yang diwanti-wanti adalah kerumunannya, kalau kemudian liburan sama-sama ke tempat wisata atau sama-sama kemudian beli oleh-oleh akan terjadi kerumunan," sebutnya saat dihubungi detikcom Senin (23/11/2020).

Miko menyetujui pengurangan liburan akhir tahun demi meminimalisir risiko kerumunan yang muncul. Berkaca pada penambahan kasus COVID-19 pasca libur panjang di pekan-pekan sebelumnya.

"Iya setuju saja, kerumunannya akan sedikit," tegasnya.

Namun apakah penerapan ini akan efektif tekan kasus COVID-19?

Miko kembali menegaskan penurunan kasus COVID-19 semata-mata akan efektif jika seluruh warga kembali mematuhi protokol COVID-19 yang ada. Pasalnya, menurut Miko, saat 60 persen warga yang mematuhi protokol COVID-19, kasus Corona masih terus naik.

"Waktu di awal-awal PSBB saja yang mematuhi protokol 60 persen, itu kasusnya masih terus naik," jelasnya.

Miko berpesan untuk sebijak mungkin menghadapi libur panjang akhir tahun. Sebab, kali ini libur akhir tahun dilaksanakan di tengah pandemi COVID-19.



Simak Video "IDI Sebut Kerumunan Picu Lonjakan Kasus Corona RI"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)