Selasa, 24 Nov 2020 10:14 WIB

Sebelum Imunisasi, Ini Strategi Penting yang Perlu Dilakukan

Alfi Kholisdinuka - detikHealth
relawan vaksin moderna Foto: CNN
Jakarta -

Pakar Imunisasi dr. Jane Jane Soepardi, MPH menyebut sejak lama program imunisasi di Indonesia telah berhasil mencegah penyakit menular. Penyakit yang berhasil dicegah tersebut di antaranya, campak, difteri, pneumonia dan banyak penyakit lainnya.

"Jadi masyarakat kita harus terus-menerus diberi pengetahuan tentang penyakit apa saja yang berhasil dicegah dengan imunisasi. Jangan sampai nanti lupa lalu menghindari vaksin sehingga muncul kembali penyakit-penyakit lama," ujar dr. Jane dikutip dari situs resmi Satgas COVID-19, Selasa (24/11/2020).

Dia menuturkan dalam merancang kampanye imunisasi ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. Faktor pertama yakni negara harus memiliki vaksin yang efektif untuk mencegah penyakit menular tersebut dengan dibuktikan hasil uji klinis yang terdaftar di WHO dan badan kesehatan resmi lainnya.

"Faktor kedua yang perlu dipersiapkan adalah alat penyimpanannya, agar tidak cepat rusak. Ketiga adalah penentuan lokasi imunisasinya, biasanya menggunakan satu lokasi tertentu agar masyarakat mudah mengaksesnya," ungkapnya dalam dialog 'Tata Laksana Vaksinasi di Indonesia'.

"Lalu yang juga penting lainnya adalah orang yang akan diimunisasi. Kalau bisa sudah ada daftar nama yang dipegang petugas. Kemudian tambahannya adalah relawan yang membantu lalu lintas di lokasi nantinya," imbuh dr. Jane.

Selain itu, kata dia, dukungan penyuluhan dan sosialisasi terencana jauh-jauh hari juga harus telah dipersiapkan. Sehingga, setiap orang yang akan datang ke lokasi imunisasi sudah siap dan mendapat informasi yang cukup mengenai program tersebut.

"Di setiap kali kampanye selalu ada masalah yang baru. Kalau tidak memiliki pengalaman sebelumnya akan gawat. Jadi penting sekali untuk imunisasi yang akan datang, jangan sampai orang yang tidak mengerti sama sekali dalam hal kampanye imunisasi ini diberi tugas dan tanggung jawab," jelasnya.

"Di Indonesia kader-kader imunisasi di setiap desa sudah ada dan berpengalaman melakukan pelayanan imunisasi. Jadi kader-kader imunisasi ini harus dipakai, boleh ditambah dari unsur pramuka, karang taruna, dan petugas siskamling," sambung dr. Jane.

Sementara itu, Juru Bicara Satgas COVID-19 dr Reisa Broto Asmoro mengatakan angka rasio pemulihan (recovery rate) kasus positif COVID-19 di Indonesia meningkat dari Minggu lalu di angka 83,92% menjadi lebih dari 84% pada minggu ini.

Selain itu telah lebih dari 3,5 juta penduduk Indonesia yang diuji PCR (swab) dengan hasil rasio positif COVID-19 mencapai 14%, atau lebih banyak negatif COVID-19 daripada yang positif.

Kementerian Kesehatan telah mencanangkan memperkuat pelacakan kontak (tracing) dengan target rasio 1:30, yang artinya dari satu pasien positif, maka 30 kontak terdekat pasien akan dilacak.

"Upaya lain yang tengah dilakukan pemerintah untuk menekan penularan COVID-19 adalah mewujudkan program vaksin untuk rakyat. Untuk ini, pemerintah tengah mempersiapkan vaksin dan tata laksana imunisasinya nanti. Kemenkes juga telah melatih lebih dari 8.600 vaksinator dari 23.000 vaksinator yang rencananya akan disiapkan untuk mendukung kampanye imunisasi nanti," pungkasnya.

Sebagai informasi, meskipun vaksin nanti akan datang, masyarakat diimbau tetap #IngatPesanIbu dengan disiplin menerapkan 3M #memakaimasker, #mencucitangan, dan #menjagajarak. Mari kita praktikan 3M tersebut sebagai satu-kesatuan karena 3M ini satu paket.

(mul/ega)