Selasa, 24 Nov 2020 11:53 WIB

Mengenal Profesi Ahli Epidemiologi, Juru Wabah yang Hits Selama Pandemi

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Warga melintas di dekat mural bergambar simbol orang berdoa menggunakan masker yang mewakili umat beragama di Indonesia di kawasan Juanda, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (18/6/2020). Mural yang dibuat oleh warga itu bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menggunakan masker sebagai salah satu  pencegahan dan penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/aww. Potret mural Corona. (Foto: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta -

Sejak wabah COVID-19 merebak, profesi ahli epidemiologi semakin tak asing didengar. Namun, tidak sedikit yang juga belum memahami apa sebenarnya ilmu epidemiologi dan siapa yang bisa disebut ahli epidemiologi atau sebutan lainnya juru wabah.

Dr Masdalina Pane dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) menjelaskan sebenarnya ilmu epidemiologi tak hanya mempelajari soal wabah saja. Namun, tiga hal dalam masalah kesehatan seperti frekuensi, distribusi dan determinan, apa itu?

"Ilmu yang mempelajari tentang frekuensi jumlah, distribusi penyebarannya, dan determinan, dan apa-apa saja yang menyebabkan terjadinya peningkatan frekuensi, atau penularan frekuensi dan bagaimana penyebarannya, determinan apa saja yang menyebabkannya," jelas Dr Pane saat dihubungi detikcom Selasa (24/11/2020).

Orang yang disebut sebagai ahli epidemiologi disebut Dr Pane harus sudah melalui pendidikan epidemiologi, baik di bawah fakultas kesehatan masyarakat maupun di bawah program pascasarjana kedokteran.

Lantas bagaimana yang tidak menjalani pendidikan tersebut?

"Kalaupun dia tidak mendapat pendidikan epidemiologi setidaknya dia mendapatkan materi epidemiologi secara adequat, ada berapa SKS yang harus didapatkan," sebut Dr Pane.

"Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) bersama Kemenkes juga melakukan pelatihan. Nah ini untuk mendapatkan SKS itu kan, pelatihan asisten epidemiologi di lapangan," lanjutnya.

Tak hanya lulus sarjana kedokteran

Dr Pane menegaskan bagi yang ingin melakukan praktik tak bisa hanya lulus sekolah kedokteran, ada beberapa persyaratan termasuk dari Kementerian Kesehatan RI. Salah satunya terkait surat tanda registrasi (STR).

"Itu harus ada persyaratan dari Kemenkes, dia harus lulus mengajukan surat utk mengajukan STR, surat tanda registrasi bahwa dia memang firm sah di-accepted oleh Kemenkes sebagai seseorang yang memenuhi syarat utk mendapatkan STR," sebut Dr Pane.

Ahli epidemiologi mendapatkan STR dari Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia (KTKI).

Seorang ahli epidemiologi juga harus lulus uji kompetensi. Klik halaman selanjutnya untuk meneruskan.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Penjelasan Epidemiologi soal Kasus Corona di Indonesia Meningkat"
[Gambas:Video 20detik]