Jumat, 27 Nov 2020 12:09 WIB

Stres Bikin Imun Tubuh Menurun, Perlukah Libur Akhir Tahun Dikurangi?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Kepadatan kendaraan menuju Jalan Raya Puncak, Gadog, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (22/8/2020). Tingginya antusias warga untuk berlibur di kawasan Puncak Bogor pada libur panjang Tahun Baru Islam 1 Muharam 1442 Hijriah dan libur akhir pekan membuat kepadatan terjadi disejumlah titik, Sat Lantas Polres Bogor memberlakukan sistem buka tutup jalur dan sistem lawan arus (contraflow) untuk mengurai kemacetan. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/hp. Foto: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Jakarta -

Stres merupakan hal yang menjadi bagian dari kehidupan, bahkan tanpa disadari bisa merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Bagaimana caranya?

Menurut ahli imunologi klinis Dr Leonard Calabrese, DO, saat stres tubuh akan memproduksi lebih banyak hormon stres kortisol. Hormon ini bisa meningkatkan kekebalan dengan membatasi peradangan.

"Namun, seiring waktu tubuh akan terbiasa memiliki terlalu banyak hormon kortisol di dalam darah. Dan ini akan membuka celah untuk lebih banyak peradangan pada tubuh," jelas Dr Calabrese yang dikutip dari Cleveland Clinic, Jumat (27/11/2020).

Selain itu, stres juga bisa menurunkan limfosit tubuh (sel darah putih) yang membantu melawan infeksi. Semakin rendah tingkat limfosit, maka seseorang semakin berisiko terinfeksi virus.

Jika stres terjadi dalam jangka panjang yang berkelanjutan, bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan kronis lainnya. Misalnya seperti detak jantung lebih cepat, penyakit jantung, tukak lambung, diabetes tipe 2, berbagai jenis kanker, hingga penurunan mental.

Lalu, apakah dengan liburan bisa mengatasi stres?

Dikutip dari Verywell Mind, sebuah penelitian menunjukkan bahwa libur panjang misalnya seperti empat hari berturut-turut memiliki efek positif pada pemulihan ketegangan dan stres yang dirasakan selama 45 hari. Ini berlaku bagi mereka yang liburan jauh dari rumah maupun yang berlibur di rumah saja.

Namun, di tengah pandemi COVID-19 ini, libur panjang menjadi sebuah kekhawatiran akan bertambahnya kasus penularan Corona di tengah masyarakat. Bahkan Presiden Joko Widodo meminta libur akhir tahun dipotong untuk mencegahnya.

Apakah langkah itu efektif untuk mencegah penularan?

Menurut ahli epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman, kebijakan pemotongan libur akhir tahun ini menjadi keputusan yang benar. Tetapi, tidak akan memberikan dampak yang signifikan.

"Jika liburan ini dipotong memang ada dampaknya, tapi itu tidak terlalu signifikan kalau lainnya (kegiatan) seperti pilkada itu diperbolehkan juga," kata Dicky pada detikcom beberapa waktu lalu.

Dicky menegaskan, bukan hanya libur panjang seperti akhir tahun yang perlu diperhatikan agar tidak terjadi peningkatan kasus COVID-19. Tapi, dua faktor yang memicunya juga haru diperhatikan, yaitu mobilitas atau pergerakan dan interaksi manusia.

"Tidak hanya libur panjang, mau akhir tahun, pasca lebaran, atau pasca hari kemerdekaan dulu. Itu semua akan berdampak karena ada pergerakan manusia, ada interaksi manusia, yang 2 hal ini menjadi faktor yang bisa memperparah," jelasnya.

"Atau sebaliknya, jika kurang mobilitasnya (pergerakan) atau interaksinya, itu akan memperkuat pengendalian pandemi," lanjutnya.



Simak Video "Tips Aman Virus Corona saat Libur Akhir Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)