Selasa, 01 Des 2020 15:24 WIB

Dari Temuan 121 Kasus di Kudus, 4 Remaja Positif HIV Akibat Seks Sejenis

Dian Utoro Aji - detikHealth
HIV - sexually transmitted disease blood test and treatment Hari AIDS Sedunia (Foto: iStock)
Kudus -

Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Kudus mencatat ada peningkatan kasus remaja yang positif HIV. Sebagian di antaranya tertular lewat hubungan seks lelaki sama lelaki.

"Ada empat remaja, semua laki-laki dan faktor resiko lelaki seks lelaki. Nah ini artinya mereka di usia produktif di usia mereka aktif belajar, aktivitas positif ternyata mereka sudah terpapar HIV," kata Manajer HIV-AIDS pada Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Kudus, Eni Mardiyanti kepada wartawan di Kantor KPAD Kudus, Selasa (1/12/2020).

Eni mengatakan temuan kasus HIV di Kudus ada 121 orang. Data itu terhitung sejak bulan Januari hingga November 2020. Dari data itu, di kelompok usia remaja ada empat orang terpapar HIV.

"Temuan di Kudus, banyaknya 121 orang. Dari Januari sampai bulan November. Itu ada 4 orang remaja usia 14 tahun sampai 19 tahun," kata Eni.

Menurutnya ada sejumlah faktor yang menyebabkan remaja itu terjerumus ke perilaku seks sesama jenis. Pertama karena adanya peningkatan libido atau gairah seks sehingga melakukan hubungan seks.

Berikutnya adalah pengaruh lingkungan. Temuan menunjukkan remaja tersebut juga menggunakan sebuah aplikasi di media sosial. Menurut Eni, para remaja mengaku ada sebuah aplikasi yang memuat konten edukasi hubungan sejenis.

"Saya menggali, kok kamu bisa. Ada kok buk aplikasi. Ternyata ada aplikasi. Ada edukasi hubungan seks sesama lelaki. Kebebasan akses apapun ada sisi negatif di sana," katanya.

Menurut Eni, temuan remaja yang melakukan hubungan seks lelaki sama lelaki pada 2019 hanya ada satu kasus. Sedangkan khusus lelaki di usia 20 tahun hingga 40 tahun ada 30 persen. Sedangkan jumlah temuan kasus tahun 2019 ada 154 kasus positif HIV.

"Tahun ini (2020) ada 121 kasus dengan ada sebanyak 21 meninggal dunia. Ada 100 yang hidup. Di antaranya temuan bumil ada 8 orang, meninggal dunia satu. Selain itu kebanyakan hubungan seksual yang berisiko seperti tidak pakai kondom," papar Eni.

Untuk itu, kata Eni perlu langkah pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS. Selain itu juga dilakukan screening hingga pengobatan.

"Mulai program dari global, mulai pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS. Selanjutnya, screening kemudian obati. Banyak teman orang tidak mengetahui dirinya positif itu dia bisa melakukan screening. Artinya program suluh menjadi ujung tombak," pungkasnya.



Simak Video "Pasien OTG COVID-19 di Yogyakarta Bisa Isoman di Hotel"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)