Selasa, 01 Des 2020 20:01 WIB

4 Riset Ilmiah Ini Menyebut Golongan Darah O Lebih Kebal COVID-19

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Sejak pandemi COVID-19 jumlah pendonor menurun padahal setiap harinya. DKI Jakarta memerlukan sekitar seribu kantong darah. Foto ilustrasi. (Foto ilustrasi: Rifkianto Nugroho)

3. Penelitian Rumah Sakit Umum Massachusetts

Penelitian lain yang menunjukkan adanya bukti keterkaitan antara golongan darah dengan kerentanan terhadap COVID-19 juga dilakukan di dua rumah sakit. Dari laporan studi yang dilakukan Rumah Sakit Umum Massachusetts, para peneliti juga menemukan orang dengan golongan darah tipe O lebih kecil kemungkinannya terinfeksi COVID-19.

Namun, golongan darah ini tidak mempengaruhi pemilihan terkait pasien Corona yang harus memakai ventilator dan lebih berisiko meninggal karena Corona.

Anahita Dua, seorang ahli bedah vaskular di rumah sakit dan penulis senior studi tersebut, mengatakan bahwa golongan darah bukan sesuatu yang dia pertimbangkan ketika menilai risiko yang dihadapi oleh pasien COVID-19.

"Aku bahkan tidak akan membicarakannya," kata Anahita yang dikutip dari New York Times.

"Dengan makalah baru ini, mungkin diputuskan bahwa golongan darah tidak mempengaruhi hasil penyakit ini," kata Joern Bullerdiek, direktur Institute for Medical Genetics di University Medicine Rostock di Jerman.

4. Penelitian di jurnal Annals of Internal Medicine

Dikutip dari Reuters, sebuah penelitian yang dilakukan di Kanada mengungkap orang dengan golongan darah O maupun Rh-negatif mungkin berisiko sedikit lebih rendah terinfeksi virUS Corona SARS-CoV-2. Penelitian ini pun telah dilaporkan di jurnal Annals of Internal Medicine.

Dari 225.556 orang Kanada yang ada di dalam penelitian, orang dengan golongan darah O 12 persen lebih rendah terinfeksi dan 13 persen lebih rendah mengalami dampak parah hingga kematian akibat COVID-19. Hasil ini didapatkan jika dibandingkan dengan golongan darah A, B, dan AB.

dr Joel Ray dari Rumah Sakit St. Michael di Toronto mengatakan bahwa hasil riset ini akan membawa penelitian kepada fokus yang besar terhadap antibodi manusia.

"Studi kami selanjutnya secara khusus akan melihat antibodi semacam itu, dan apakah mereka menjelaskan efek perlindungan," kata Ray.

Ray menyebut, belum jelas betul apakah informasi ini dapat mempengaruhi pencegahan atau pengobatan COVID-19. Butuh penelitian lebih lanjut untuk memastikannya.

Halaman
1 2 Tampilkan Semua

(sao/up)