Minggu, 06 Des 2020 05:07 WIB

WHO Sebut Ada Ancaman Reinfeksi COVID-19

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Ilustrasi pasien di rumah sakit Ilustrasi pasien Corona. Foto: iStock
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan masyarakat di seluruh dunia akan adanya ancaman infeksi ulang atau reinfeksi COVID-19, saat respon dari antibodi berkurang. Hal ini disampaikan oleh direktur eksekutif WHO program darurat Dr Mike Ryan.

"Kami telah melihat jumlah orang yang terinfeksi terus bertambah, tetapi kami juga melihat data yang muncul bahwa proteksi mungkin tidak seumur hidup, dan oleh karena itu kami mungkin melihat infeksi ulang mulai terjadi," jelas Dr Ryan yang dikutip dari CNBC, Sabtu (5/12/2020).

Menurut Pusat Pengendalian dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat, reinfeksi berarti seseorang terinfeksi virus, pulih, dan kemudian terinfeksi lagi. Berdasarkan pengalaman CDC terhadap virus lain, infeksi ulang COVID-19 diprediksi bisa terjadi.

Namun, para peneliti berusaha menentukan seberapa mungkin dan seberapa sering infeksi ulang ini bisa terjadi. Kepala unit penyakit dan zoonosis WHO, Maria Van Kerkhove, mengatakan mereka masih terus mencoba menentukan berapa lama respon antibodi akan bertahan setelah seseorang terinfeksi COVID-19.

"Yang kami pahami adalah 90 persen hingga 100 persen orang yang terinfeksi virus Corona mengembangkan antibodi, apakah kamu mengalami infeksi ringan, infeksi tanpa gejala, hingga infeksi parah," katanya.

Berdasarkan penelitian yang tengah dilakukan, lanjut Maria, menunjukkan respons antibodi bisa berlangsung selama enam bulan atau lebih.

Pada studi Oxford baru-baru ini, peneliti menemukan bahwa orang tertular virus Corona 'sangat tidak mungkin' untuk tertular penyakit itu lagi, setidaknya selama enam bulan. Studi ini dilakukan antara bulan April dan November 2020, pada 12.180 petugas kesehatan di Rumah Sakit Oxford.

Hasilnya, 89 dari 11.052 staf tanpa antibodi terinfeksi virus COVID-19 dengan gejala. Lalu, tidak ada satu pun dari 1.246 staf dengan antibodi mengembangkan gejala infeksi.

"Pada beberapa orang ini mungkin berkurang setelah beberapa bulan, tapi kamu mendapatkan indikasi yang baik bahwa respon imun infeksi alami berlangsung selama beberapa bulan," kata Van Kerkhove.

Masih berkaitan dengan reinfeksi, pada Agustus lalu peneliti Hong Kong melaporkan adanya kasus reinfeksi COVID-19 pertama kali yang dialami pria berusia 33 tahun. Ia terinfeksi pertama kali pada akhir Maret, dan kembali terinfeksi empat bulan kemudian.

"Ini tidak berarti hal itu (reinfeksi) sering terjadi. Kami tahu itu mungkin terjadi," jawabnya pada sesi tanya jawab beberapa waktu lalu.



Simak Video "Mereka-mereka yang Tiga Kali Terinfeksi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)