Viral, sebuah surat yang dituliskan oleh seorang perawat pasien COVID-19 di Inggris. Surat itu berisikan tentang rasa sedih akibat kehilangan salah satu pasiennya yang meninggal dunia akibat infeksi virus Corona.
Dikutip dari Daily Star, perawat itu bernama Vicky Neville. Ia bekerja di Rumah Sakit Warrington, Inggris.
Dalam surat tersebut, Vicky menceritakan ia baru saja kembali bekerja dari cuti hamilnya. Vicky pun kembali bertugas di garis terdepan dalam memerangi COVID-19.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menjadi perawat ICU bukan untuk orang yang lemah hati, apalagi saat menghadapi pandemi, pekerjaannya cukup berat apalagi harus memakai alat pelindung diri (APD) lengkap," tulis Vicky dalam suratnya.
"Kami telah menyelamatkan banyak nyawa (pasien) dan sayangnya juga kehilangan banyak nyawa, termasuk staf kami sendiri," lanjutnya.
Dalam sehari, Vicky bekerja selama 12 jam dimulai dari pukul 07.45 pagi. Kala itu, sehabis istirahat ia mendapat kabar bahwa salah satu pasiennya membutuhkan perawatan yang lebih intensif.
"Kadar oksigennya sangat rendah dan tak ada lagi ruangan yang terdapat ventilator," ujar Vicky.
Vicky pun telah melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan pasiennya, ia melakukan tindakan CPR selama 15 menit dan sang pasien sempat kembali sadar. Namun, pada akhirnya pasien tersebut meninggal dunia.
"Saya memegang tangannya, kacamata pelindung saya mengepul karena air mata. Dia berusia 57 tahun, seusia ibu saya," ucapnya.
Atas izin dari pimpinan shift, keluarga pasien boleh melihat jasad sang pasien untuk yang terakhir kali. Kemudian Vicky menghubungi istri dari pasien tersebut.
"Ia mengatakan kepada saya bahwa mereka tidak bisa datang karena mereka juga terkena COVID-19 dan tak ada orang terdekat lainnya yang bisa datang," jelasnya.
"Saya mendengar mereka menangis dan saya menahan tangis, saya memberitahu mereka bahwa saat ini saya sedang bersama suaminya dan saya tidak akan meninggalkannya. Saya tidak meninggalkan dia, saya berada di sisinya selama tiga jam," tambahnya.
Pihak keluarga pun berterima kasih kepada Vicky dan tim karena telah melakukan yang terbaik. Namun, yang menjadi kesedihannya adalah ia merasa gagal telah menyelamatkan sang pasien dan pasien itu berjuang sendirian hingga akhir.
"Saya kembali masuk ke dalam tirai dan melakukan pekerjaan terakhir, tugas terakhir yang bisa saya lakukan kepada pasien saya," ucapnya.
"Saya memberi tahu semua yang dikatakan oleh istrinya kepada saya dan saya memegang tangannya saat saya melepas cincin kawinnya, saya menaruhnya dalam tas plastik untuk diberikan ke istrinya nanti," tuturnya.
(kna/kna)











































