Senin, 07 Des 2020 18:14 WIB

Berbagai Argumen yang Munculkan Penolakan Terhadap Program Vaksinasi

Yudistira Imandiar - detikHealth
DR. dr. Julitasari Sundoro MSc-PH (Executive Secretary ITAGI Indonesia) (kanan) menjadi pembicara dalam dialog bertema Tolak dan Tangkal Hoaks  di Jakarta, Senin 7 Desember 2020. Selain Julitasari hadir juga Septiaji Eko Nugroho (Ketua Presidium MAFINDO) melalui layanan virtual. Foto: KPCPEN
Jakarta - Riak penolakan vaksinasi COVID-19 masih ditemukan pada sejumlah kalangan masyarakat. Penolakan tersebut diduga timbul karena kesalahpahaman mengenai vaksin akibat informasi yang keliru hingga kabar bohong.

Executive Secretary Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dr Julitasari Sundoro mengatakan aksi penolakan vaksin tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga menjadi masalah di negara lain di dunia.

"Mereka terkenal dengan vaccine resistance. Ini sudah di dunia, tidak hanya di Indonesia saja. Seiring berjalannya waktu, gerakan anti vaksin menyebar di internet, seminar-seminar perguruan tinggi di perguruan tinggi," kata dr Julitasari dalam keterangan tertulis, Senin (7/12/2020).

Gerakan menentang vaksinasi atau imunisasi, kata dr Julitasari, bukanlah hal baru dan terjadi hampir di seluruh belahan dunia. Ia mengulas, keraguan terhadap vaksinasi bahkan diperparah oleh klaim keliru dari sejumlah dokter.

"Seharusnya dokter memegang peran penting untuk mensukseskan kampanye vaksinasi COVID-19 dan tidak terlibat dalam pusaran propaganda anti vaksinasi," ungkap dr Julitasari.

Beberapa pernyataan dokter di Indonesia terkait vaksin disebutkannya sangat keliru bahkan menyesatkan.

"Di Indonesia, ada seorang patologi anatomi yang menyatakan secara imunologi ada sel memori tidak perlu disuntik, ini suatu hal yang keliru. Ada dokter ahli gizi menyatakan jika ada kuman disuntikkan kepada anak dengan daya tahan tubuh yang menurun, maka kuman itu akan menjadi aktif bahkan menginfeksi tubuh penerima," urai dr Julitasari.

Ia menambahkan, ada pernyataan paling baru dari seorang dokter yang mengatakan tidak perlu membuang uang untuk membeli vaksin, karena tes PCR dinilainya lebih efektif dalam menangkal COVID-19.

"Beliau tidak paham kalau PCR itu dibutuhkan untuk screening penemuan kasus, vaksin untuk pencegahan. Basic saja dia tidak paham," cetus dr Julitasari.

Ia memaparkan sejarah menunjukkan vaksinasi berperan dalam menangkal penyakit menular, mencegah kesakitan, dan kematian. Hal ini sudah terbukti baik di Indonesia maupun di dunia. Pada abad 20 ini, vaksin berhasil mengeradikasi penyakit seperti cacar atau smallpox. Selain itu, dengan adanya vaksinasi massal, Indonesia dinyatakan bebas cacar pada 1980.

Secara biologi, lanjut dr Julitasari, vaksin merupakan virus atau bakteri yang dilemahkan sehingga kemudian dihasilkan kekebalan aktif saat dimasukkan ke tubuh manusia.

Simak Video "Benarkah Vaksinasi Gotong Royong Buat Orang Kaya? Ini Faktanya!"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ega)