Senin, 14 Des 2020 08:30 WIB

3 Faktor Pemicu Pasien COVID-19 Mengalami Delirium, Apa Saja?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
COVID-19 named by WHO for Novel coronavirus NCP concept. Doctor or lab technician in PPE suit holding blood sample with novel (new) coronavirus  in Wuhan, Hubei Province, China, medical and healthcare 3 faktor pemicu pasien COVID-19 mengalami delirium. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Pornpak Khunatorn)
Jakarta -

Saat ini, banyak peneliti yang mengungkapkan berbagai gejala baru yang berkaitan dengan COVID-19. Bahkan sejumlah penelitian baru menemukan bahwa virus Corona ini bisa menyebabkan delirium, yang banyak dialami kelompok pasien usia lanjut (lansia).

Menurut akademisi sekaligus praktisi klinis Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, delirium menjadi gejala pertama yang bisa menyebabkan seseorang harus pergi ke rumah sakit.

"Delirium bisa menjadi gejala pertama yang membawa pasien datang ke rumah sakit. Pasien COVID-19 yang mengalami gangguan pada sistem saraf pusat bisa datang dengan sakit kepala hebat disertai delirium dan pasien COVID-19 bisa datang gangguan jiwa (psikotik)," kata Prof Ari melalui pesan singkat yang diterima detikcom, Senin (14/12/2020).

"Tentu hal ini harus menjadi perhatian bagi para dokter yang bekerja di gawat darurat, karena bisa saja pasien datang dengan kondisi seperti ini. Begitu pula buat pasien dan anggota keluarga perlu mengenal gejala ini sebagai bagian dari gejala penyakit COVID-19," lanjutnya.

Prof Ari menjelaskan, delirium pada pasien COVID-19 sebenarnya menunjukkan bahwa pasien tengah mengalami kondisi yang berat akibat virus Corona. Bahkan ada tiga hal yang menyebabkan pasien COVID-19 mengalami delirium, yaitu:

  • Pertama, pasien dengan COVID-19 bisa mengalami hipoksia (kekurangan oksigen) darah, sehingga pengiriman oksigen ke organ di dalam tubuh menjadi terganggu. Otak kita sangat sensitif akan kekurangan oksigen menyebabkan pasien mengalami gangguan kesadaran berupa delirium.
  • Kedua, penyebab pasien COVID-19 mengalami delirium berhubungan dengan sindrom badai sitokin yang bisa terjadi sebagai komplikasi dari infeksi COVID-19. Tubuh akan memproduksi sel- sel radang yang bisa menyebabkan berbagai lanjutan komplikasi, seperti terjadinya peningkatan kekentalan darah dan peradangan di berbagai organ termasuk organ otak.
  • Ketiga, kemungkinan virus akan melewati sawar darah otak atau jembatan antara sirkulasi darah dan otak, sehingga menyebabkan kerusakan otak.

"Hal ini memang harus menjadi perhatian kita semua bahwa infeksi COVID-19 ini menyebabkan berbagai komplikasi termasuk komplikasi ke otak. Apabila pasien bisa kembali sehat, efek samping jangka panjang sebagai gejala sisa akibat infeksi ini juga dapat terjadi yang kita sebut sebagai long Covid," jelas Prof Ari.



Simak Video "Informasi Terkini Seputar Gejala Covid-19 yang Ditimbulkan Varian Omicron"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)