Selasa, 15 Des 2020 11:29 WIB

Salut! Donasikan Plasma Darah, Pasutri Ini Selamatkan 68 Pasien COVID-19

Ayunda Septiani - detikHealth
ERLANGEN, GERMANY - APRIL 27: A recovered Covid-19 patient donates blood plasma for research into Covid-19 antibodies at the medical researcher of the German Center for Immunity Therapy (das Deutsche Zentrum Immuntherapie, or DZI) at the University Hospital Erlangen during the novel coronavirus crisis on April 27, 2020 in Erlangen, Germany. The DZI is among several research facilities across Germany conducting research and tests over whether blood plasma that contains the antibodies from recovered Covid-19 patients might provide a therapy for other Covid-19 patients still battling with the disease. Germany currently has over 150,000 confirmed cases of Covid-19 infection, 103,000 people have recovered and approximately 6,000 people have died. (Photo by Alexander Hassenstein/Getty Images) Foto ilustrasi. (Foto ilustraso: Getty Images/Alexander Hassenstein)
Jakarta -

Pengobatan virus Corona COVID-19 menggunakan plasma darah pasien yang telah pulih diyakini memberikan manfaat bagi pasien pengidap COVID-19 untuk bertahan hidup dan pulih.

Hal ini terjadi di San Antonio, Texas, Amerika Serikat, ketika pasangan suami istri, Brian dan Dina Murphy menjalankan misi untuk membantu pengidap COVID-19 untuk puluh.

Plasma darah adalah cairan berwarna kekuningan yang bertugas membawa sel darah. Tidak hanya sel darah, plasma darah juga berperan membawa berbagai nutrisi penting yang menunjang kesehatan tubuh.

Suami istri Brian dan Dina tercatat telah menyumbangkan plasma darah untuk 68 orang pengidap COVID-19, setelah keduanya terinfeksi pada Maret 2020 lalu.

"Saya sungguh merasa bahwa Tuhan benar-benar menyelamatkan saya dan menjadi orang yang selamat. Lalu, saya merasa inilah yang Tuhan ingin saya lakukan untuk membantu orang lain," kata Dina (60), dikutip dari laman People.com.

Seperti banyak orang yang tertular COVID-19 ketika pandemi pertama kali dimulai, Brian dan Dina pun awalnya tidak memiliki jawaban yang memastikan bahwa mereka mengidap virus tersebut.

Brian yang berusia 59 tahun, yang rentan terhadap infeksi sinus, mengaku mulai sakit pada awal Maret lalu. Namun, karena dia merasa tidak memiliki semua gejala COVID-19, maka dia didiagnosa mengalami sakit kepala biasa.

Meskipun ada beberapa bukti yang menunjukkan hal yang sebaliknya, FDA telah menyimpulkan bahwa plasma darah dengan cairan yang berwarna kuning, cairan darah yang mengandung antibodi pada mereka yang telah pulih dari COVID-19 dapat efektif dalam mengobati virus.

Selain itu, pasangan suami istri tersebut menghimbau kepada masyarakat yang pernah terpapar virus Corona COVID-19 untuk mempertimbangkan menyumbang plasma darahnya juga, terutama di tengah lonjakan kasus saat ini di seluruh negeri.

"Ini adalah waktu kritis bagi setiap orang untuk menyediakan [plasma] karena ada lebih banyak orang di rumah sakit sekarang yang dapat menggunakan donor plasma," kata Brian kepada GMA.

"Ini sangat penting dan kamu menyelamatkan umat manusia. Itulah yang sangat penting," tambah Diana.



Simak Video "Kriteria Pendonor Plasma Konvalesen untuk Terapi Pasien COVID-19 "
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)