Rabu, 16 Des 2020 10:11 WIB

Pengantar Paket Curhat Kelelahan, Tak Lama Kemudian Ditemukan Meninggal

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Ilustrasi Paket Foto: shutterstock
Jakarta -

Setidaknya belasan kurir di Korea Selatan meninggal dunia karena kelelahan mengantar paket. Jam kerja yang terlalu panjang dan beban terlalu berat menjadikan pekerja kurir tumbang.

Dilaporkan oleh New York Times, setidaknya 15 pengantar kurir tewas karena bekerja dari subuh hingga malam hari. Serangkaian kematian di antara para kurir tahun ini telah menyebabkan keributan nasional, menarik perhatian pada perlindungan pekerja yang tidak merata di Korea Selatan.

Pandemi virus corona membuat banyak orang menghindari belanja secara langsung. Sebagai alternatif, mereka akan memesan kebutuhan secara online dan ini membuat kurir kewalahan dan kolaps.

Salah satu pengantar paket, Nyonya Choi, 43, merasa beruntung karena tetap memiliki pekerjaan di masa pandemi. Tapi ia juga harus membayar harganya.

"Beban kerja menjadi terlalu banyak. Sejak virus corona datang, pulang lebih awal untuk makan malam bersama anak-anak saya telah menjadi mimpi," kata Nyonya Choi.

Seorang kurir di Seoul, Kim Dong-hee, kembali ke rumah pada pukul 2 pagi pada 7 Oktober. Kemudian pada hari itu, ia kembali ke gudang untuk mengambil 420 paket.

Dia masih harus melakukan banyak pengiriman ketika dia mengirim pesan kepada rekannya pada pukul 4:28 pagi keesokan harinya. Dia bilang dia akan pulang jam 5 pagi tapi hampir tidak punya waktu untuk makan dan mandi sebelum keluar lagi.

"Saya terlalu lelah," tulisnya.

Empat hari kemudian, dia tidak masuk kerja. Ketika rekan-rekannya memeriksa rumahnya, mereka menemukannya tewas; polisi memutuskan bahwa gagal jantung adalah penyebabnya. Rekan kerja mengatakan dia tewas karena terlalu banyak bekerja.

Pada hari Tuan Kim mengirim pesannya, pria lain di Seoul, Kim Won-jong, pingsan dalam perjalanan pengirimannya, mengeluh nyeri dada dan kesulitan bernapas sebelum meninggal.

Penyebab kematian mereka adalah kwarosa, istilah yang dipakai di Korsel untuk menyebut kematian mendadak karena kerja terlalu keras. Biasanya, orang yang mengalami kwarosa mengalami serangan jantung atau stroke.

Salah satu alasan para kurir tetap melakukan pekerjaannya meski kelelahan adalah mereka dipaksa mengantar paket tepat waktu dan estimasi pengiriman barang bukan lagi menjadi harian, tapi dalam hitungan jam. Jika kurir terlambat, mereka harus membayar denda.



Simak Video "Badan Intelijen Korsel Sebut Korut Coba Retas Server Pfizer"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)