Rabu, 16 Des 2020 11:50 WIB

Anies Wajibkan Tes Antigen, Lebih Akurat dari Rapid Tes Antibodi?

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Petugas melakukan uji Swab Antigen atau PCR di Swab Drive Thru Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Bintaro, Tangerang, Jumat (20/11/2020). Dengan penyediaan fasilitas ini membuat masyarakat lebih nyaman dan aman tanpa harus kontak dengan banyak orang. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan pihaknya akan mewajibkan rapid antigen kepada masyarakat yang mau masuk ke Jakarta. Khususnya, bagi yang datang melalui bandara.

"Setuju dengan arahan Menko Luhut, Gubernur Anies juga mengatakan akan mulai untuk memberlakukan rapid antigen kepada masyarakat yang masuk melalui bandar udara," bunyi keterangan Kemenkomarves, dikutip Rabu (16/12/2020).

Selama ini rapid berbasis antibodi jadi salah satu tes COVID-19 yang banyak digunakan oleh masyarakat jika ingin bepergian, khususnya melalui jalur udara. Namun rapid tes antibodi disebut kurang efektif dalam mendeteksi virus COVID-19 sehingga banyak pakar yang menyarankan persyaratan tersebut ditinggalkan.

Bagaimana dengan tingkat akurasi rapid antibodi Vs antigen?

Tes antigen

Tes diagnostik ini berguna untuk mendeteksi dengan cepat keberadaan infeksi COVID-19 aktif. Tes antigen bertujuan mencari protein yang terdapat di permukaan virus. Cara kerja ini berbeda dengan PCR test yang mencari material genetik pada virus corona penyebab COVID-19.

Mekanisme tes antigen tidak terlalu berat dengan bahan kimia lebih sedikit dibandingkan tes PCR. Hasil swab antigen lebih cepat dibandingkan tes PCR, namun hasilnya tidak terlalu sensitif.

Jika dibandingkan dengan tes antibodi, pemeriksaan dengan antigen lebih efektif sebab mampu mendeteksi keberadaan virus Corona yang aktif.


Tes antibodi

Tes ini mengidentifikasi antibodi yang menunjukkan infeksi sebelumnya dan peningkatan kekebalan terhadap virus melalui sampel darah.

Hal yang menjadi catatan adalah tes ini tidak dapat mendeteksi virus COVID-19 yang aktif. Antibodi membutuhkan waktu beberapa hari atau minggu untuk berkembang setelah infeksi awal.

Rapid tes antibodi bukan untuk penegakan diagnosis, sehingga hasilnya tetap harus dikonfirmasi dengan RT PCR. Tes antibodi tidak memeriksa keberadaan virus, namun lebih menunjukkan apakah seseorang pernah terpapar COVID-19 atau tidak.

Pemeriksaan dengan tes antibodi memiliki kelemahan karena tes bisa memberikan hasil 'false negative' yakni tampak negatif meski sebenarnya positif. Ini terjadi bila tes dilakukan pada fase yang tidak tepat.

Samakah rapid antigen dan swab antigen? Klik halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Pelaku Perjalanan Disarankan Tes dengan Rapid Antigen, Bukan GeNose"
[Gambas:Video 20detik]