Jumat, 18 Des 2020 05:56 WIB

Fakta-fakta Delirium, Gejala Baru COVID-19 yang Menyerang Fungsi Otak

Sukma Indah Permana - detikHealth
Close up hand of elderly patient with intravenous catheter for injection plug in hand during lying in hospital ward room Delirium menjadi salah satu gejala COVID-19 (Foto: iStock)
Yogyakarta -

Delirium disebut-sebut menjadi salah satu gejala baru virus Corona atau COVID-19. Penyakit ini diklaim banyak ditemukan pada pasien virus Corona di usia lanjut atau lansia.

Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah mada (RSA UGM), dr. Fajar Maskuri, Sp.S., M.Sc., mengatakan delirium merupakan gangguan sistem saraf pusat yang berupa gangguan kognitif dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan. Kondisi ini terjadi akibat disfungsi otak pada beberapa pasien virus Corona.

Ia menyampaikan terdapat sejumlah gejala deilirium. Salah satunya adalah kebingungan pada pasien COVID-19. Lalu, disorientasi, bicara menggigau, sulit konsentrasi/kurang fokus, gelisah, serta halusinasi.

"Gejala-gejala itu munculnya fluktuatif dan biasanya berkembang cepat dalam beberapa jam atau beberapa hari," jelasnya dalam keterangan tertulis yang dikirim Humas UGM kepada wartawan, Kamis (17/12).

Apa penyebab delirium pada COVID-19?

Adapun penyebab delirium pada pasien COVID-19, kata Fajar karena multifaktor. Salah satunya kurangnya oksigen dalam tubuh atau hipoksia.

Berikutnya, adanya penyakit sistemik dan inflamasi sistemik, gangguan sistem pembekuan darah yang terlalu aktif (koagulopati), dan infeksi virus Corona langsung ke saraf. Lalu, mekanisme autoimun pasca infeksi dan endoteliitis turut berpengaruh terhadap munculnya delirium pada pasien namun dengan intensitas lebih jarang dibandingkan mekanisme yang lain.

Seberapa sering delirium muncul pada pasien COVID-19?

Fajar menjelaskan bahwa gangguan neurologis dapat terjadi pada sekitar 42,2 persen pasien COVID-19. Sementara manifestasi gangguan neurologis tersering pada pasien COVID-19 adalah nyeri otot (44,8 persen), nyeri kepala (37,7 persen), delirium (31,8 persen), dizziness (29,7 persen).

"Secara umum, delirium dialami pada 13-19 persen pasien COVID-19," terangnya.

Siapa yang mengalami?

Lebih lanjut Fajar menjelaskan delirium rentan terjadi pada orang lanjut usia (lansia) atau di atas 65 tahun, terutama pada lansia yang lebih lemah. Terdapat beberapa kondisi lain yang menyerupai delirium COVID-19 pada lansia.

Beberapa di antaranya delirium akibat gangguan kognitif yang bersifat fluktuatif seperti yang terjadi pada ensefalopati uremikum serta gangguan kognitif yang bersifat terus-menerus seperti pada demensia.

Meski begitu, lanjut Fajar, bukan berarti pasien berusia muda tidak bisa terkena delirium. Ditemukannya delirium pada pasien COVID-19 usia muda menandakan adanya ensefalopati akibat gangguan pernafasan yang berat.

Selain itu, delirium juga dapat terjadi pada pasien-pasien yang mendapat obat-obatan psikotropika karena kondisi penyakit tertentu. Oleh sebab itu, peran keluarga sangat penting untuk memberikan informasi tentang riwayat penyakit dan obat-obatan yang dikonsumsi pasien kepada petugas medis saat pasien dirawat.

Apa dampak yang ditimbulkan jika mengalami delirium? Cek di halaman berikut.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Informasi Terkini Seputar Gejala Covid-19 yang Ditimbulkan Varian Omicron"
[Gambas:Video 20detik]