Senin, 21 Des 2020 11:45 WIB

Vaksin Corona Sinovac Diisukan Paling Lemah, Ini Bantahan BPOM RI

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
The doctor prepares the syringe with the cure for vaccination. Foto: iStock
Jakarta -

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membantah kabar vaksin Corona Sinovac disebut paling lemah. Sebelumnya, sebuah artikel bulan lalu di Al Jazeera memuat tabel soal perkembangan uji klinis beragam vaksin Corona.

Dalam sebuah tabel yang dikutip dari Al-jazeera, vaksin Corona Sinovac diberi label 'low' terkait repons imun dan berada di urutan paling bawah. Sementara itu, Pfizer dalam tabel tersebut memicu respons imun paling tinggi dengan angka 95 persen.

Bagaimana tanggapan BPOM terkait hal ini?

Juru bicara Vaksinasi COVID-19 Lucia Rizka Andalusia, menepis kabar tersebut, memastikan bahwa tak ada tabel dari WHO terkait perbandingan respons imun beragam kandidat vaksin Corona.

"Hingga saat ini, tidak ada dokumen dan informasi resmi dari WHO yang membandingkan respon imunitas 10 kandidat vaksin, atau pernyataan bahwa vaksin Sinovac rendah sebagaimana ditampilkan dalam pemberitaan," tegas Lucia.

Lucia mengaku sudah mengonfirmasi hal ini kepada pihak WHO Indonesia. Lantas bagaimana perkembangan efikasi vaksin Corona Sinovac?

"Sampai saat ini belum ada pengumuman tingkat efikasi vaksin Sinovac baik dari pihak produsen maupun badan pengawas obat di negara tempat dilakukannya uji klinik," lanjutnya.

Menurutnya, BPOM tetap memastikan vaksin Corona yang akan digunakan di Indonesia aman, efektif dan bermutu jika sudah mendapat izin penggunaan darurat nantinya. Peninjauan vaksin Corona yang akan digunakan di Indonesia juga melibatkan sejumlah pihak di luar BPOM.

"Pemerintah telah menegaskan komitmennya untuk memastikan bahwa vaksinasi hanya dilakukan dengan vaksin yang aman, efektif, dan bermutu secepatnya," tuturnya.

"Badan POM, bersama Komite Nasional Penilai Obat dan para ahli akan memastikan dan mengawal aspek keamanan, khasiat serta mutu dari vaksin COVID-19 yang akan digunakan untuk program vaksinasi sesuai standar yang ditetapkan oleh WHO," pungkasnya.



Simak Video "Epidemiolog: Dosis Ketiga Sinovac Baiknya Diberikan Setelah 6 Bulan"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)