Kamis, 24 Des 2020 11:50 WIB

Anak 13 Tahun Meninggal Kena Corona, Pesan Terakhir pada Sang Ibu Bikin Haru

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Anak 13 tahun meninggal karena Corona, ini pesan terakhirnya pada sang ibu. (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Remaja berusia 13 tahun meninggal karena COVID-19 usai sebelumnya sempat mengatakan pesan-pesan terakhir kepada sang ibu. Ia begitu yakin dirinya tak akan berhasil melawan COVID-19.

"Aku akan meninggal Ma," begitu ucap Peyton Baumgarth, remaja asal Inggris kepada ibunya, dikutip dari Daily Star.

Enam hari setelah mengeluhkan gejala COVID-19, ia meninggal dunia saat kadar oksigen di dalam darahnya terus menurun. Peyton sebelumnya hanya mengeluhkan gejala COVID-19 seperti kelelahan, ia tak mengalami batuk atau sesak napas di awal infeksi.

Satu tanda yang mulanya disadari Peyton dan sang ibu, adalah kuku jari tangan dan kaki Peyton membiru. Ia langsung dibawa ke rumah sakit, dan sesampainya di sana kadar oksigen Peyton di bawah normal.

"Kondisinya memburuk pada Halloween dan dia mengalami pendarahan," lapor The Sun.

Kadar oksigen Peyton disebutkan hanya 44 persen dari kadar oksigen normal yang seharusnya. Kondisi ini juga disebut happy hypoxia, terjadi saat kadar oksigen di dalam tubuh rendah tanpa mengalami gejala sesak napas, sewaktu-waktu bisa memicu kondisi fatal.

Para tenaga medis yang kala itu merawat Peyton, sekuat tenaga berusaha menyelamatkan nyawa remaja ini dengan melakukan CPR. Namun, sayangnya, kata-kata terakhir sang ibu, yang mencoba menguatkan Peyton adalah momen terakhir dirinya dengan sang anak sebelum meninggal dunia.

"Kamu akan baik-baik saja Peyton, kamu tak akan meninggal," haru sang ibu.

"Dia mengatakan kepadaku bahwa dia mencintaiku dan itu adalah kata-kata terakhir yang kudengar darinya," kenang sang ibu, Stephanie Franek, saat diwawancara.

Nahasnya, lima minggu usai Peyton meninggal dunia, saudara perempuannya juga meninggal akibat COVID-19. Sang ibu juga dinyatakan positif Corona, tetapi mengeluhkan gejala ringan, Peyton saat terinfeksi COVID-19 sempat tak bisa bicara beberapa hari.

Peyton juga memiliki penyakit tiroid dan asma, tetapi ibunya kala itu tak menganggap kondisi tersebut sebagai sebuah risiko saat terpapar Corona.

Kejadian tragis sempat terjadi ketika ahli bedah mencoba mengganti tabung di leher Peyton sebagai alat bantu napas, seketika darah telah mengumpul di dadanya dan menyembur ke dinding tempat Peyton dirawat. Lima belas menit berselang, Peyton tak berhasil selamat.



Simak Video "Hati-hati dengan Badai Sitokin "
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)