Selasa, 29 Des 2020 11:05 WIB

10 Bulan Pandemi, Pemerintah Terus Upayakan Pengadaan Vaksin COVID-19

Alfi Kholisdinuka - detikHealth
Petugas kesehatan mempersiapkan vaksin COVID-19 saat simulasi pelayanan vaksinasi di Puskesmas Kemaraya, Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (18/12/2020). Simulasi tersebut dilaksanakan agar petugas kesehatan mengetahui proses penyuntikan vaksinasi COVID-19 yang direncanakan pada Maret 2021. ANTARA FOTO/Jojon/rwa. Foto: ANTARA FOTO/JOJON
Jakarta -

Sudah 10 bulan pandemi COVID-19 hinggap di Indonesia, pemerintah terus berupaya menekan laju penyebaran virus, salah satunya dengan mendatangkan vaksin tahap pertama pada 6 Desember 2020 lalu. Sebanyak 1,2 juta dosis vaksin yang diterima tersebut merupakan buatan Sinovac yang diuji secara klinis di Bandung sejak Agustus 2020.

"Kita juga masih mengupayakan 1,8 juta dosis vaksin yang akan tiba di awal Januari 2021," ujar Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam sambutannya kala itu dikutip dari situs resmi Satgas COVID-19, Selasa (29/12/20202).

Selain vaksin dalam bentuk jadi, dalam bulan ini juga akan tiba 15 juta dosis vaksin dan di bulan Januari sebanyak 30 juta dosis vaksin dalam bentuk bahan baku curah yang akan diproses lebih lanjut oleh Bio Farma.

Jokowi bersyukur vaksin sudah tersedia di Indonesia, artinya bisa segera mencegah meluasnya wabah COVID-19. Tetapi untuk memulai vaksinasi masih memerlukan tahapan-tahapan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM).

Sejumlah negara di dunia termasuk Indonesia memutuskan bahwa pemberian vaksin tak akan dipungut biaya alias gratis. Hal ini diputuskan, setelah Jokowi menerima banyak masukan dari masyarakat dan setelah melakukan kalkulasi ulang mengenai keuangan negara.

"Dapat saya sampaikan bahwa vaksin COVID-19 untuk masyarakat adalah gratis. Sekali lagi, gratis, tidak dikenakan biaya sama sekali," tegasnya.

Jokowi menginstruksikan dan memerintahkan kepada seluruh jajaran kabinet, kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah untuk memprioritaskan program vaksinasi pada tahun anggaran 2021.

"Saya juga ingin tegaskan lagi, nanti saya yang akan menjadi penerima vaksin ini untuk pertama kali. Hal ini untuk memberikan kepercayaan dan keyakinan kepada masyarakat bahwa vaksin yang digunakan aman," ujarnya.

Kini sudah 10 bulan pandemi di Indonesia, seluruh lapisan masyarakat terus bergotong royong bergandengan tangan untuk melawan pandemi hingga akhir. Hal ini dilakukan melalui kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan 3M dan mendukung persiapan vaksinasi serta siap di vaksin saat vaksin siap.

Sebagai informasi, sebelumnya wabah ini pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, pada tanggal 1 Desember 2019. Wabah yang telah berlangsung setahun ini ditetapkan sebagai pandemi global oleh organisasi Kesehatan dunia (WHO) pada 11 Maret 2020.

Kasus pertama di Indonesia diumumkan langsung oleh Jokowi pada tanggal 2 Maret 2020. Lalu pada tanggal 9 April, pandemi sudah menyebar ke 34 Provinsi dengan DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat sebagai provinsi paling tinggi paparan COVID-19 di Indonesia.

Sebagai tanggapan terhadap pandemi, beberapa wilayah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Sejumlah provinsi, kabupaten, dan kota juga mengajukan dan menerapkan PSBB.

Tidak berhenti disitu saja, para ilmuwan di seluruh dunia juga berusaha mengembangkan vaksin COVID-19 yang efektif dan aman dalam waktu secepat mungkin. Berdasarkan data WHO per 19 Oktober 2020, terdapat 154 kandidat vaksin yang tengah dalam tahap uji praklinik dan 44 kandidat vaksin COVID-19 yang sudah memasuki tahap uji klinik.

Beberapa kandidat vaksin sudah memasuki tahap uji klinik fase ketiga, antara lain Sinopharm, Sinovac Biotech, AstraZeneca, Novavax, Moderna, Pfizer, dan BioNTech, serta vaksin buatan Gamaleya Research Institute.



Simak Video "Alasan WHO Akhirnya Luluh soal Vaksin Covid-19 Dosis Ketiga"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)