Jabar Waspadai Hipertensi di Masa Pandemi

Jabar Waspadai Hipertensi di Masa Pandemi

Yudha Maulana - detikHealth
Selasa, 29 Des 2020 12:04 WIB
Jabar Waspadai Hipertensi di Masa Pandemi
Hipertensi (Foto: shutterstock)
Bandung -

Hipertensi menjadi komorbid atau penyakit penyerta yang paling banyak ditemukan pada kasus-kasus kematian COVID-19 di Jawa Barat. Fakta itu terungkap dalam Pertemuan Advokasi Penguatan Strategis Penyakit Tidak Menular (PTM) yang digelar secara virtual bersama Dinas Kesehatan kabupaten/kota secara virtual, Senin (28/12/2020).

Dalam forum tersebut mengemuka, 9,67 persen atau nyaris 5 juta orang warga Jabar mengidap hipertensi. Angka tersebut melebihi rata-rata nasional yang berada di angka 8,36 persen.

Berdasarkan data yang dihimpun detikcom dari Dinas Kesehatan Jabar, pada 2016 lalu ditemukan 790.382 kasus hipertensi dari 8.029.245 penduduk berusia lebih dari 18 tahun. Penemuan kasus tertinggi ditemukan di Kota Cirebon (17,18 persen) dan terendah di Kabupaten Pangandaran (0,05 persen).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain hipertensi, penyakit tidak menular (PTM) lainnya adalah diabetes mellitus (DM), penyakit jantung dan penyakit paru obstruksi kronik menjadi komorbid yang juga banyak ditemukan pada kasus-kasus kematian COVID-19.

"Jangan hanya COVID-19 yang menjadi fokus, tetapi PTM pun harus menjadi perhatian kita semua," ujar Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum dalam keterangannya, ditulis Selasa (29/12/2020).

ADVERTISEMENT

Data nasional menunjukkan penyakit penyerta (komorbid) pada kasus COVID-19 terbanyak sekaligus angka tertinggi pada kematian adalah hipertensi atau darah tinggi.

Selain hipertensi, penyakit diabetes mellitus (DM), penyakit jantung dan penyakit paru obstruksi kronik menjadi komorbid yang paling banyak ditemukan pada kasus-kasus kematian COVID-19.

Menurut Uu, PTM lebih berbahaya pada masa pandemi karena meningkatkan risiko kematian pada pasien terinfeksi COVID-19. "Yang berbahaya adalah mereka yang sudah memiliki PTM dan terkena COVID-19," kata Kang Uu.

Pertemuan dengan dinkes kabupaten/kota, katanya, bertujuan memberikan penguatan kembali kepada tenaga di dunia kesehatan untuk tidak mengabaikan PTM. Menurutnya, anggaran besar pun tak akan membawa hasil maksimal tanpa adanya koordinasi.

"Karena memang ini yang paling berbahaya," ujarnya.




(yum/up)

Berita Terkait