Senin, 04 Jan 2021 18:53 WIB

Beredar Foto Syekh Ali Jaber Sakit, Begini Etika Soal Privasi Pasien di RS

Firdaus Anwar - detikHealth
Ali Saleh Mohammed Ali Jaber Beredar foto Syekh Ali Jaber yang dirawat karena sakit. (Foto ilustrasi: Lintang Jati Rahina/20detik)
Jakarta -

Di media sosial ramai soal foto yang menyebut kondisi Syekh Ali Jaber kritis karena COVID-19. Dalam foto tampak kondisi Syekh Ali Jaber terbaring dengan berbagai alat bantu medis terpasang di tubuhnya.

Asisten Syekh Ali Jaber, Abu Aras, menjelaskan hal tersebut keliru karena kondisinya saat ini sudah membaik. Foto diambil tanpa izin sehingga pihak keluarga akhirnya memberikan teguran kepada rumah sakit (RS) tempat Syekh Ali Jaber dirawat.

"Terkait foto Syekh Ali Jaber beredar berantai, foto tersebut dari salah satu perawat yang melanggar etika atau privasi pasien dan keluarga," kata Abi kepada CNNIndonesia.com, Senin (4/1/2021).

Memang seperti apa sih aturan atau etika merekam foto atau video pasien di RS?

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) menjelaskan bahwa proses perekaman foto dan video harus dilakukan dengan persetujuan pasien, keluarga, dan RS. Tujuannya agar tidak terjadi pelanggaran privasi.

Foto dan video pasien juga bisa diambil bila konteksnya diperlukan untuk penelitian dan pembelajaran. Namun hal ini tentunya harus mengikuti standar pedoman etika penelitian.

"Dalam konteks pengambilan gambar untuk kebutuhan penelitian dan pembelajaran, ahli etika dan hukum RS menyebut hal tersebut bukan merupakan pelanggaran privasi sepanjang resikonya minimal (cioms 2016, pedoman 10). RS sebaiknya memahami benar prinsip, standar, dan pedoman etik yang bersifat 'universal' - dalam konteks penelitian," tulis PERSI seperti dikutip dari situs resminya pada Senin (4/1/2021).

Foto dan video yang sudah diambil disebut hanya bisa disimpan dan dilihat oleh mereka yang berwenang.



Simak Video "Virus Corona Mengancam Kerusakan Otak"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)