Selasa, 05 Jan 2021 09:04 WIB

Negara-negara yang Kembali Lockdown Ketat Akibat Lonjakan COVID-19

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Sejumlah negara di Eropa melaporkan laju kasus virus Corona mulai melambat. Hal itu memberi harapan bagi benua biru untuk bangkit usai dihantam wabah Corona. Sejumlah negara kembali lockdown akibat lonjakan kasus COVID-19. (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Di berbagai negara, pandemi Corona masih belum teratasi. Bahkan, kini muncul beberapa varian baru Corona yang menambah kekhawatiran karena disebut-sebut lebih cepat menular. Varian baru ini antara lain diidentifikasi di Inggris dan Afrika Selatan.

Bertambahnya kasus infeksi COVID-19 setiap hari membuat beberapa negara kembali memberlakukan kebijakan lockdown. Ini dilakukan untuk menekan jumlah kasus yang semakin bertambah dan membebani fasilitas kesehatan.

Berikut beberapa negara yang memberlakukan lockdown lagi yang telah dirangkum detikcom dari berbagai sumber.

1. Inggris

Setelah meluncurkan vaksin virus Corona Oxford-AstraZeneca, Inggris akan segera menerapkan kebijakan lockdown lagi. Keputusan ini diumumkan oleh Perdana Menteri Boris Johnson pada Senin (4/1/2021) waktu setempat.

Berdasarkan keputusan yang diumumkan tersebut, seluruh wilayah Inggris akan ditutup atau lockdown mulai Rabu (6/1/2021). Temuan strain baru Corona menyebabkan COVID-19 lebih cepat menyebar ke seluruh Inggris.

"Kebanyakan wilayah sudah menerapkan langkah ekstrem, sudah jelas bahwa kita butuh melakukan yang lebih, secara bersama-sama, agar varian baru ini bisa terkontrol saat vaksinasi kita bergulir," kata Boris Johnson yang dikutip dari AFP, Selasa (5/1/2021).

2. Lebanon

Selain Inggris, Lebanon juga mengumumkan kebijakan lockdown penuh selama tiga minggu, termasuk jam malam, untuk mencegah peningkatan kasus COVID-19 di negara tersebut. Hal ini dilakukan karena rumah sakit di negara tersebut sudah menghadapi krisis keuangan.

Menteri Kesehatan yang tengah menjabat saat ini, Hamad Hasan mengatakan lockdown akan dimulai pada Kamis (7/1/2021) hingga 1 Februari 2021.

Lebanon mengumumkan penguncian penuh selama tiga minggu, untuk membendung peningkatan infeksi COVID-19 yang mengancam rumah sakit di negara yang sudah menghadapi krisis keuangan. Lockdown ini juga mencankup jam malam dari pukul 6 sore sampai 5 pagi.

"Jelas bahwa tantangan pandemi sudah mencapai tahap yang sangat mengancam nyawa warga Lebanon, karena rumah sakit tidak mampu menyediakan tempat tidur," jelas Hasan pasca pertemuan komite kementerian tentang COVID-19, dikutip dari Reuters, Selasa (5/1/2021).

3. Beijing

Ibu Kota China, Beijing, juga tengah mengalami kondisi darurat akibat COVID-19. Hal ini memaksa sebagian wilayah di sana untuk menerapkan lockdown.

Pada Selasa (29/12/2020) lalu, pemerintah setempat mengumumkan akan menutup 10 area di Beijing. Sejak 18 Desember lalu, di wilayah tersebut juga telah ditemukan kasus baru yang terdiri dari 16 kasus infeksi dan tiga kasus asimtomatik.

"Enam kecamatan, tiga bangunan dan satu zona industri termasuk di antara kawasan yang dikunci," kata seorang pejabat kota Beijing pada konferensi pers, yang dikutip dari Reuters beberapa waktu lalu.

"Pencegahan dan pengendalian COVID di ibu kota perlu memulai mode darurat," lanjutnya.

Dengan berlakunya kebijakan lockdown ini, semua pertemuan skala besar seperti pameran kuil dan acara olahraga dibatalkan. Jumlah penumpang transportasi umum juga dibatasi.

Selain itu, kapasitas tempat hiburan juga turun hingga 75 persen, dan juga mendesak seluruh masyarakat yang ada di Beijing untuk tetap tinggal di rumah selama liburan ini.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Alasan Selandia Baru Selalu Gercep Lockdown Bila Muncul Kasus Corona"
[Gambas:Video 20detik]