Rabu, 06 Jan 2021 17:00 WIB

Jadi Gejala COVID-19, Ini Beda Parosmia dan Phantosmia

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Stinky Feet. Disgusted Girlfriend Pinching Nose Lying Near Boyfriends Smelly Legs In Bed In Bedroom. Selective Focus Gangguan penciuman parosmia menjadi salah satu gejala COVID-19. (Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Prostock-Studio)
Jakarta -

Gangguan penciuman merupakan salah satu gejala COVID-19. Orang yang terinfeksi virus Corona disebut bisa mengalami anosmia dan juga parosmia.

Anosmia merupakan suatu kondisi hilangnya indra penciuman. Sedangkan parosmia adalah terganggunya indra penciuman dalam mengidentifikasi bau-bauan.

Parosmia sendiri merupakan gejala COVID-19 terbaru yang dialami pasien Corona. Namun, parosmia kadang-kadang disalahartikan dengan kondisi lain yang disebut phantosmia. Lantas apa bedanya parosmia dan phantosmia?

Parosmia

Pasien yang mengalami parosmia akan merasa kesulitan dalam mengidentifikasi bau-bauan. Misalnya, bau yang harum mungkin akan tercium menjadi busuk.

Parosmia biasanya terjadi setelah neuron pendeteksi bau di hidung mengalami kerusakan akibat terinfeksi virus maupun kondisi kesehatan lainnya.

Nah, kerusakan neuron ini mengubah penafsiran bau yang diterima bulbus olfaktorius yang di mana fungsingnya adalah untuk penciuman, sensitivitas deteksi bau, atau menyaring bau.

Dikutip dari Healthline, kondisi parosmia biasanya tidak permanen. Neuron pendeteksi bau di hidung dapat membaik seiring berjalannya waktu.

Waktu pemulihannya pun berbeda sesuai dengan penyebab, gejala, dan pengobatan yang dijalani. Jika parosmia disebabkan oleh virus atau infeksi, indra penciuman dapat kembali normal tanpa pengobatan. Namun, butuh waktu antara 2-3 tahun untuk pemulihannya.

Phantosmia

Phantosmia merupakan suatu kondisi yang menyebabkan kamu seperti mencium sesuatu, padahal tidak ada sumber baunya. Misalnya, kamu mencium bau roti gosong, tetapi tidak ada roti di sekitarmu.

Phantosmia kerap juga disebut sebagai halusinasi penciuman. Hanya saja bau yang sering tercium adalah bau yang tidak enak.

Bau yang tercium bisa seperti asap rokok, karet terbakar, bau bahan kimia, dan lain-lainnya.

Dikutip dari Medical News Today, beberapa masalah di hidung yang bisa menyebabkan phantosmia di antaranya polip hidung, tumor, infeksi sinus kronis, demam atau rinitis alergi, dan rinitis non alergi.



Simak Video "Informasi Terkini Seputar Gejala Covid-19 yang Ditimbulkan Varian Omicron"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/kna)