Kamis, 07 Jan 2021 11:51 WIB

PSBB Jawa-Bali Diharap Bisa Tekan Lebih dari 20 Persen Kasus Aktif Corona

Firdaus Anwar - detikHealth
Petugas medis menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) memeriksa kondisi pasien COVID-19 yang berstatus OTG (Orang Tanpa Gejala) saat kegiatan berjemur dan olahraga di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Senin  (21/12/2020). Kegiatan pemeriksaan kesehatan, berjemur dan berolahraga tersebut rutin dilakukan setiap pagi hari untuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien yang menjalani isolasi. Petugas medis memeriksa kondisi pasien OTG di Bekasi. (Foto ilustrasi: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo menyebut Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat di sebagian daerah Jawa-Bali dilakukan untuk menekan kasus aktif Corona di Indonesia yang terus meningkat. Ada ancaman sistem kesehatan bisa kolaps.

"Jangan anggap enteng COVID, jangan anggap ini tidak ada apa-apanya. Korban jiwa sudah semakin banyak dan kita harus mencegah kasus aktif ini, tidak boleh bertambah," kata Doni dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB pada Kamis (7/1/2021).

Hingga hari Rabu (6/1/2021), tercatat ada 112.593 kasus aktif COVID-19 di Indonesia. Tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di rumah sakit sembilan provinsi sudah mencapai lebih dari 70 persen.

Doni berharap PSBB ketat Jawa-Bali kali ini dapat mengambil contoh kesuksesan PSBB ketat di bulan September silam. Kala itu angka kasus aktif COVID-19 dapat ditekan sampai sekitar 20 persen dalam kurun waktu dua minggu.

"Pengalaman yang lalu ini sekarang kita ulangi kembali lewat pembatasan. Kita harapkan persentasenya bisa lebih besar dibandingkan pada periode September-November awal. Pada saat itu terjadi penurunan sekitar 20 persen," kata Doni.

"Kita berharap periode ini persentase yang kita turunkan jauh lebih besar lagi," pungkasnya.



Simak Video "Sasaran Vaksin Zifivax yang Baru Kantongi EUA BPOM RI"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)