Sabtu, 09 Jan 2021 05:46 WIB

Menkes: Perang Lawan COVID-19 Seperti Operasi Kontra Intelijen

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta -

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengibaratkan upaya penanganan COVID-19 sebagai perang melawan virus. Jika sistem pertahanan tidak cocok, musuh akan menyusup tanpa disadari.

Ia mengaku, perumpamaan itu didapatnya dari diskusi dengan Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN), Bambang Brodjonegoro.

"Pencerahan dari Pak Bambang itu menyadarkan saya ini seperti operasi counter intelligent. Musuhnya udah menyusup, musuhnya masuk, kita nggak tahu karena memang kita tidak memiliki peralatan, tidak memiliki tools, tidak memiliki proses untuk mengetahui apakah musuhnya sudah nyusup atau tidak," jelasnya.

Ia juga menyinggung pemaparan Bill Gates soal sistem persenjataan yang lebih banyak disiapkan untuk perang melawan sesama manusia, sehingga tidak cocok untuk menghadapi virus. Menurutnya, musuh yang dihadapi saat ini adalah virus yang tidak kelihatan.

Dalam penandatanganan kerja sama Surveilans Genom virus SARS-CoV-2 antara Kemenkes-Kemenristek/BRIN, Jumat (8/1/2021), Menristek Bambang Brodjonegoro juga menyampaikan pendapat senada. Untuk menghadapi musuh yang tidak kelihatan, dibutuhkan upaya lebih untuk memahami karakter virus. Karenanya, ilmu genomik sangat dibutuhkan.

"Tujuan kita melakukan genomic survelance, yang utamanya akan terbagi menjadi 2 aktivitasnya yaitu whole genome sequencing dan surveilance genomic yang bersifat spesifik, tidak hanya untuk sekadar Indonesia bisa menyampaikan informasi lebih banyak kepada dunia melalui GSAID terkait karakter virus COVID-19 yang ada di Indonesia dalam bentuk whole genome sequencing, tetapi kita juga ingin mempelajari dan mengetahui secara lebih cepat apabila terjadi mutasi virus," jelas Bambang.

Tidak hanya untuk mendapatkan informasi tentang karakter virus yang ada di Indonesia, surveilans genomik juga dibutuhkan untuk memahami efek mutasi terhadap efektivitas dan eficacy atau kemanjuran vaksin yang selama ini dikembangkan untuk COVID-19.

"Paling tidak sampai saat ini belum ada hambatan untuk efektivitas dan eficacy vaksin dari mutasi yang ada," kata Bambang.

(up/up)