Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI RS Persahabatan, Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) mengatakan bahwa pneumonia yang disebabkan COVID-19 ada yang bisa sembuh. Namun ada juga yang tidak bisa kembali normal atau irreversible.
Namun, jika pneumonia yang dialami pasien COVID-19 ini masih berada pada derajat yang tidak berat atau sedang, biasanya dapat disembuhkan dengan bantuan perawatan medis. Lama waktunya bisa sekitar dua sampai tiga minggu.
"Kalau pneumonianya berat sampai kritis, maka walaupun dia sembuh butuh waktu. Berdasarkan dari data yang ada itu sekitar 3-6 minggu," jelasnya dalam diskusi daring yang disiarkan BNPB pada Kamis (21/01/2021).
Tetapi, dr Agus mengatakan derajat keparahan pneumonia akibat COVID-19 ini bisa berubah saat pasien menjalani rawat inap. Misalnya, seorang pasien masuk dengan pneumonia ringan tanpa hipoksemia, tapi dalam beberapa lama kondisinya berubah menjadi berat.
Berdasarkan data RS Persahabatan, kondisi tersebut dialami sekitar 2-3 persen pasien. Sementara sekitar 8 persen pasien yang masuk dengan derajat sedang, bisa berubah menjadi kritis dan meningkatkan risiko kematian.
"Jadi ini yang saya pesankan pada masyarakat, ketika terkena COVID-19 maka selain PCR harus tetap konsultasi ke dokter. Apakah saya perlu di periksa X-ray atau tidak. Karena untuk mendeteksi pneumonia itu adalah dengan pemeriksaan radiologi atau rontgen dada," jelas dr Agus.
(sao/kna)