Rabu, 27 Jan 2021 05:50 WIB

Gejala COVID-19 Ini Diyakini Paling Khas dan Bertahan Paling Lama

Zintan Prihatini - detikHealth
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) hadirkan laboratorium mini-layanan tes swab antigen bagi para pegawai. Hal itu dilakukan guna cegah COVID-19. Virus Corona COVID-19 (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Gejala COVID-19 sangat beragam, mulai dari demam, batuk, sakit tenggorokan, hingga sesak napas. Kehilangan kemampuan mencium dan perasa atau anosmia menjadi salah satu gejala khas yang juga mengindikasikan infeksi virus Corona.

Dikutip dari NDTV, penelitian menemukan bahwa kehilangan kemampuan mencium bau mungkin menjadi prediktor terbaik COVID-19 di antara pasien dengan gejala penyakit pernapasan. Dua studi internasional lainnya yang diterbitkan dalam jurnal Chemical Senses menunjukkan bahwa sering terjadi kondisi hilangnya kemampuan mencium bau pada pasien COVID-19 yang seringkali berlangsung dalam waktu lama.

Studi tersebut meneliti lebih dari 4.500 pasien yang terinfeksi virus Corona di seluruh dunia, dan menemukan bahwa hilangnya kemampuan indra penciuman rata-rata memengaruhi penciuman hingga 79,7 persen.

"Ini menekankan betapa pentingnya mewaspadai gejala ini, yang mungkin satu-satunya gejala penyakit ini," kata peneliti dari Aarhus University di Denmark, Alexander Wieck Fjaeldstad.

Pada penelitian yang sama, ditemukan bahwa hanya sekitar setengah dari pasien dengan kehilangan kemampuan mencium yang mendapatkan kembali kemampuan itu setelah 40 hari.

"Ini berbeda dengan gambaran yang kami lihat pada infeksi virus lain dan menyebabkan ketidaknyamanan jangka panjang bagi pasien, baik terkait makanan dan kontak sosial, sekaligus membuat mereka khawatir," jelas Fjaeldstad.

Para peneliti juga menemukan bahwa kemampuan indra perasa pun berkurang secara signifikan, menjadi 69 persen.

"Sementara hilangnya kemampuan mencium itu sendiri menghilangkan kemampuan untuk merasakan aroma makanan, hilangnya kemampuan indra lain secara bersamaan membuat sulit untuk mengecap apa yang Anda makan. Oleh karena itu, memasukkan makanan ke dalam mulut dapat menjadi pengalaman yang jelas tidak menyenangkan," tambahnya.

Fjaeldstad mengungkapkan bahwa hilangnya kemampuan penciuman pada pasien COVID-19 erat kaitannya dengan bagaimana SARS-CoV-2 menginfeksi tubuh.



Simak Video "Reaksi Kulit yang Bisa Terjadi Pada Pasien Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)