Minggu, 31 Jan 2021 14:02 WIB

Seberapa Efektif Tes COVID-19 dengan Air Liur? Ini Penjelasan Ahli

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Tes swab jadi salah satu cara deteksi dini penyebaran virus Corona di masyarakat. Puskesmas Kecamatan Gambir pun memberikan layanan tes swab gratis bagi warga. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan tengah memperluas kapasitas untuk tes COVID-19. Ia menyinggung soal kemungkinan RI menggunakan tes COVID-19 berbasis saliva atau air liur.

"Di tahun 2021 ini di dalam rangka mempercepat dan memperluas tes PCR, kami sedang melakukan penelitian untuk mengganti swab dengan saliva. Saliva adalah air liur, sedangkan swab itu adalah cairan yang diambil dari belakang hidung kita," kata Bambang dalam webinar ILUNI UI, Sabtu (30/1/2021).

Sejauh ini tes COVID-19 dengan metode PCR menjadi standar penegakan diagnosa untuk COVID-19 karena akurasinya yang sangat tinggi untuk mendeteksi keberadaan viral load virus Corona. Lalu bagaimana dengan tes saliva?

"Tes air liur sangat sensitif. Ini dapat mendeteksi virus serta satu salinan per mikroliter air liur," kata Dr Spencer Kroll, FNLA, spesialis penyakit dalam di New Jersey, kepada Healthline.

Meski demikian, Kroll mengatakan hasil tes saliva tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya metode diagnosa pasien COVID-19.

Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal kedokteran bergengsi JAMA Internal Medicine, pengujian berbasis air liur menunjukkan akurasi dalam mendeteksi virus Corona sebesar 83 persen, menurut tinjauan data dari 16 studi yang melibatkan 5.900 partisipan.

Penulis penelitian juga melaporkan bahwa pengujian berbasis air liur telah menunjukkan akurasi 99 persen dalam mengidentifikasi kasus negatif untuk COVID-19, dengan proses yang jauh lebih nyaman.

Selain itu para ilmuwan di Memorial Sloan Kettering Cancer Center belum lama merilis penelitian yang diterbitkan dalam The Journal of Molecular Diagnostics yang mengamati akurasi sampel air liur yang dikumpulkan sendiri.

Studi melibatkan 285 karyawan Memorial Sloan Kettering yang memiliki gejala yang konsisten dengan COVID-19 atau memerlukan pengujian karena kemungkinan terpapar seseorang yang positif Corona. Masing-masing partisipan memberikan sepasang sampel. Beberapa diminta untuk melakukan metode swab nasofaring yang diambil melalui hidung dan sampel air liur. Beberapa partisipan lain, melakukan metode swab orofaringeal yang dikumpulkan melalui mulut dan air liur.

Kemudian, beberapa partisipan diminta menggunakan metode swab nasofaring dan sampel dari berkumur, metode pengumpulan lain yang sedang diuji. Hasilnya, peneliti menemukan bahwa kesepakatan antara saliva dan swab yang diberikan melalui mulut adalah 93 persen, dan sensitivitasnya adalah 96,7 persen.

Metode swab yang diberikan melalui hidung dan air liur memiliki hasil yang sesuai 97,7 persen, dengan sensitivitas 94,1 persen.



Simak Video "Detail Rencana Bio Farma Produksi Tes PCR Kumur-kumur 'Bio Saliva'"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)