Minggu, 31 Jan 2021 21:00 WIB

2 Vaksin Ini Diuji ke Varian Baru Corona Afsel, Bagaimana Hasilnya?

Ayunda Septiani - detikHealth
Vaccine and syringe injection It use for prevention, immunization and treatment from COVID-19 Virus Corona COVID-19. (Foto: Getty Images/iStockphoto/kiattisakch)
Jakarta -

Data awal dari dua uji coba vaksin virus Corona menunjukkan kurang efektif dalam melindungi dari varian virus Corona Afrika Selatan.

Data uji klinis menunjukkan bahwa vaksin Novavax dan Johnson & Johnson kurang efektif dalam mencegah virus Corona pada peserta uji coba di Afrika Selatan. Kedua perusahaan vaksin melakukan perbandingan antara negara-negara yang kurang tersebar varian Afrika Selatan dan di Afrika Selatan di mana varian baru menyebar luas.

Dikutip dari laman The Guardian, Novavax melaporkan bahwa hasil dari uji coba menunjukkan vaksinnya memiliki kemanjuran 50 persen secara keseluruhan dalam mencegah COVID-19 di antara orang-orang di Afrika Selatan. Sementara di hasil tahap akhir dari Inggris, vaksin tersebut memiliki kemanjuran hingga 89,3 persen.

Pada Jumat (29/1/2021), Johnson & Johnson mengatakan satu suntikan vaksinnya memiliki kemanjuran 66 persen, dilihat dari uji coba skala besar yang mencakup tiga benua. Di AS, kemanjuran vaksin mencapai 72 persen, tetapi hanya 57 persen di Afrika Selatan, di mana varian baru merupakan 95 persen kasus virus korona dalam uji coba.

Hasil uji coba tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kemanjuran vaksin yang beredar saat ini, seperti Pfizer/BioNTech yang telah didistribusikan di Inggris. Sementara vaksin menunjukkan kemanjuran tinggi, uji coba sebagian besar dilakukan sebelum varian Afrika Selatan menyebar luas.

Seorang peneliti di pusat medis Beth Israel Deaconess, sekolah kedokteran Universitas Harvard di Boston yang membantu mengembangkan vaksin Johnson & Johnson, Dan Barouch mengatakan, bahwa varian baru berarti ini adalah pandemi yang berbeda sekarang.

Berbicara di Forum Ekonomi Dunia, kepala eksekutif Pfizer, Albert Bourla, mengatakan ada kemungkinan besar bahwa strain baru pada akhirnya bisa berarti vaksin perusahaan itu berlebihan.

"Ini belum terjadi, tapi saya pikir kemungkinan besar suatu hari hal itu akan terjadi," ujar Bourla.

Pfizer sedang mempertimbangkan apakah vaksinnya perlu diubah untuk melindungi dari varian Afrika Selatan. Terlepas dari varian baru, para ahli mengatakan bahwa vaksin yang ada masih berharga dalam perang melawan virus corona. Vaksin Johnson & Johnson 89 persen efektif dalam mencegah penyakit parah di Afrika Selatan.

"Pada akhirnya adalah menghentikan kematian, menghentikan rumah sakit agar tidak mengalami krisis dan semua vaksin ini, bahkan termasuk terhadap varian Afrika Selatan, tampaknya melakukan itu secara substansial," kata Dr Amesh Adalja, ahli penyakit menular di Johns Hopkins Pusat Keamanan Kesehatan.



Simak Video "Hasil Uji Coba Akhir Vaksin CureVac Kurang Ampuh Lawan COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/kna)