Selasa, 02 Feb 2021 14:29 WIB

Cukai Rokok Naik 12,5 Persen untuk Kurangi Remaja Merokok, Efektifkah?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Cukai rokok 2021 naik menjadi 12,5%. Kenaikan tarif tersebut mulai berlaku pada Februari 2021 mendatang. Kenaikan cukai rokok diyakini bisa menekan jumlah perokok usia remaja (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Pemerintah menaikkan cukai rokok hingga 12,5 persen per Februari 2021. Tujuan utamanya, mengurangi konsumsi rokok oleh masyarakat dan menekan prevalensi merokok pada anak-anak dan remaja.

Kenaikan tersebut berlaku untuk jenis rokok sigaret putih mesin (SPM) dan sigaret kretek mesin (SKM) dengan rata-rata kenaikan harga sebanyak 12,5 persen perbatang.

Kepala Subbidang Cukai Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Sarno menyebutkan, penetapan kenaikan harga tersebut bertujuan melemahkan kemampuan beli masyarakat, terutama pada anak-anak dan remaja usia 10 - 18 tahun.

"Di samping amanah Undang-undang tentang cukai, pengendalian ini terkait dalam rencana pembangunan nasional untuk menurunkan prevalensi merokok pada remaja usia 10 - 18 tahun hingga 9,1 persen. Dengan kenaikan, kita rancang sampai 2021 bisa menurunkan prevalensi merokok anak muda," terang Sarno dalam webinar membahas implementasi kenaikan cukai hasil tembakau tahun 2021, Selasa (2/2/2021).

Berdasarkan data, prevalensi remaja 10-18 tahun merokok tidak menurun, justru menaik jauh dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019.

Sebagai catatan, pada 2019 tidak ada kenaikan cukai rokok. Sebaliknya, produksi rokok meningkat 7,3 persen di tahun itu.

Sarno menambahkan, memang belum ada data perihal keberhasilan kenaikan harga rokok dalam menurunkan konsumsi rokok oleh remaja di Indonesia.

Akan tetapi, langkah ini perlu diupayakan dengan harapan bisa menekan kemampuan beli masyarakat.

"Kita harapkan dengan kenaikan harga rokok, tingkat keterjangkauan bisa menurun. (Rokok) menjadi tidak terjangkau terutama oleh anak muda. Itu yang kita simulasikan dengan adanya kenaikan tarif cukai, agar prevalensi konsumsi rokok oleh orang dewasa maupun anak-anak menurun," terang Sarno lebih lanjut pada detikcom.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Abdillah Hasan turut menambahkan, menurut data, kenaikan harga rokok sukses meningkatkan kesehatan masyarakat di Perancis. Seiring harga yang konsisten meningkat pada 1980 - 2010, tingkat konsumsi rokok dan kasus penyakit kanker paru-paru menurun.

Turut menghadiri webinar, Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Tobacco Control Support Center (IAKMI-TCSC) Sumarjati Arjoso menegaskan, kenaikan harga memang bukan satu-satunya cara untuk menekan prevalensi konsumsi rokok di Indonesia.

Agar efektif, langkah tersebut perlu didampingi sektor-sektor lain untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya merokok, terutama remaja.

"Tidak hanya dari cukai, semua (sektor) harus komprehensif. Naik cukai perlu, kemudian larangan iklan rokok di Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Kita hanya bisa berhasil kalau semua pihak bersinergi," tegas Sumarjati.

Simak video 'Penjelasan Sri Mulyani soal Kenaikan Cukai Rokok 12,5% pada 2021':

[Gambas:Video 20detik]



(up/up)