Rabu, 03 Feb 2021 05:34 WIB

Cukai Rokok Naik 12,5 Persen, Efektifkah Tekan Perokok Muda?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Cukai rokok 2021 naik menjadi 12,5%. Kenaikan tarif tersebut mulai berlaku pada Februari 2021 mendatang. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Cukai rokok resmi naik hingga 12,5 persen per Februari 2021. Seiring pandemi COVID-19, langkah ini bertujuan meminimalkan risiko kematian akibat COVID-19 pada perokok, terutama kaum muda.

Ketua IAKMI Tobacco Control Support Center Sumarjati Arjoso menegaskan, pandemi COVID-19 perlu jadi pertimbangan besar dalam penggarapan kenaikan harga rokok beserta segala tindak lanjutnya untuk petani tembakau.

Pasalnya, angka konsumsi rokok yang tercatat konsisten meroket sejak 2019 bersamaan dengan merayapnya kasus COVID-19 adalah hal berbahaya.

"Dalam kondisi pandemi, alangkah sedih prevalensi (masyarakat) merokok tidak menurun, malah meningkatkan risiko penyebaran COVID-19 terutama di kalangan anak-anak sehingga kita terancam untuk kehilangan bonus demografi," jelasnya dalam webinar "Implementasi Kenaikan Cukai Hasil Tembakau Tahun 2021 dan Keterlibatan Pemerintah Daerah dalam Pelaksanaan serta Pengawasan" Selasa (2/2/2021).

Sumarjati mengingatkan, risiko kematian akibat COVID-19 lebih besar bagi perokok, terutama yang sudah memiliki gangguan jantung. Adalah berbahaya jika hal ini menimpa kaum muda yang seharusnya bisa menjadi potensi bonus demografi di masa mendatang.

Kepala Subbidang Cukai Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Sarno turut menjelaskan bahwa di samping amanah Undang-undang tentang cukai, kenaikan harga rokok ini bertujuan menekan angka prevalensi konsumsi rokok oleh remaja usia 10 - 18 tahun.

Menurut data yang dipaparkan dalam webinar, prevalensi remaja merokok di Indonesia memang tak menurun, malah naik menjauh dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019.

Sumarjati menegaskan, jika ingin menurunkan angka konsumsi rokok oleh masyarakat terutama remaja, diperlukan pendampingan dengan metode lain dari sektor terkait. Pasalnya, menurunkan konsumsi rokok di Indonesia memang bukan hal mudah.

"Tidak hanya dari (kenaikan) cukai, semua harus komprehensif. Naik cukai perlu, kemudian larangan iklan rokok di kawasan tanpa rokok (KTR). Itu (iklan) penting sekali karena mendorong anak-anak remaja untuk merokok," tegasnya.

Bahaya rokok di tengah pandemi memang bukan kabar baru. Selain risiko kematian yang besar pada perokok dengan gangguan jantung dan paru-paru, penularan juga bisa terjadi melalui asap dan batang rokok.



Simak Video "Kelompok yang Rentan Terkena 'Long Covid': Lansia hinga Perokok"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)