ADVERTISEMENT

Jumat, 05 Feb 2021 08:45 WIB

Hadapi Mutasi COVID-19, 'Oplosan' Vaksin Pfizer-AstraZeneca Diuji Coba

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
A health care professional prepares a Pfizer-BioNTech COVID-19 vaccine at Sheba Tel Hashomer Hospital in Ramat Gan, Israel, Tuesday, Jan. 12, 2021. Israel has struck a deal with Pfizer, promising to share vast troves of medical data with the drugmaker in exchange for the continued flow of its COVID-19 vaccine. Critics say the deal is raising major ethical concerns, including possible privacy violations and a deepening of the global divide between wealthy countries and poorer populations, including Palestinians in the occupied West Bank and Gaza, who face long waits to be inoculated. (AP Photo/Oded Balilty) Ilmuwan 'oplos' vaksin Pfizer-AstraZeneca untuk lawan mutasi Corona. (Foto: AP/Oded Balilty)
Jakarta -

Para ilmuwan di Inggris telah memulai uji coba untuk melihat kekebalan yang dihasilkan dari pencampuran dosis vaksin COVID-19 AstraZeneca dan Pfizer dalam dua suntikan. Penelitian ini dilakukan untuk menghadapi varian baru COVID-19 yang telah banyak ditemukan.

Virus Corona terus bermutasi dan dikhawatirkan lebih cepat menular daripada jenis lainnya, termasuk varian Inggris, Afrika Selatan, dan Brasil.

Uji coba ini akan memeriksa respons imun dari dosis awal pemberian vaksin Pfizer yang diikuti oleh booster dari AstraZeneca, begitu pula sebaliknya, dengan interval 4 dan 12 minggu.

Matthew Snape, ahli vaksinasi Oxford yang memimpin uji coba, mengatakan hasil awal dapat menginformasikan penerapan vaksin pada paruh kedua tahun ini.

"Kami akan mendapatkan beberapa hasil, kami perkirakan, pada bulan Juni atau sekitar itu, yang akan menginformasikan penggunaan dosis di masyarakat umum," katanya dikutip dari Reuters.

Baik suntikan mRNA yang dikembangkan oleh Pfizer dan Biontech dan vaksin vektor virus adenovirus yang dikembangkan oleh Universitas Oxford dan AstraZeneca saat ini sedang disuntikkan pada warga Inggris, dengan jeda 12 minggu antara dua dosis vaksin yang sama.

Uji coba ini tidak akan menilai efikasi keseluruhan dari kombinasi suntikan, tetapi peneliti akan mengukur respon antibodi dan sel-T, serta memantau setiap efek samping yang tidak terduga.

Data awal tentang tanggapan kekebalan diharapkan dihasilkan sekitar bulan Juni.

Para peneliti Inggris di balik uji coba tersebut mengatakan bahwa data mengenai memvaksinasi orang dengan dua jenis vaksin Corona yang berbeda dapat membantu memahami apakah suntikan dapat diluncurkan dengan fleksibilitas yang lebih besar, dan bahkan mungkin meningkatkan kekebalan.

Para peneliti Inggris di balik uji coba tersebut mengatakan data mengenai memvaksinasi orang dengan dua jenis vaksin Corona yang berbeda dapat membantu pemahaman tentang apakah suntikan dapat dilakukan dengan lebih fleksibel di seluruh dunia.



Simak Video "Kata Satgas soal Vaksin Covid-19 Umat Islam Akan Diganti yang Halal"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT