Selasa, 16 Feb 2021 21:30 WIB

Keterisian RS COVID-19 di Beberapa Wilayah di Atas 60 Persen, Ini Risikonya

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Close-up portrait of doctor in hospital operating room Ilustrasi (Foto: Getty Images/graphixel)
Jakarta -

Kondisi keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) rawat inap dan Intensive Care Unit (ICU) di sejumlah Rumah Sakit (RS) rujukan pasien COVID-19 di sejumlah Kota/Kabupaten di pulau Jawa masih tinggi.

Disebutkan oleh Sekretaris Jenderal PERSI dr Lia G. Partakusuma, SpPK, MM, MARS, tingkat keterisian rumah sakit rujukan COVID-19 tidak merata di Indonesia. Sebagian ada yang mengalami penurunan namun masih ada yang lebih tinggi dari ketentuan rasio tempat tidur yang disarankan WHO yakni 60 persen.

"Saat ini angkanya terutama di pulau Jawa masih penuh. Beberapa tempat seperti Bekasi, Jakarta, ini angkanya masih di atas 60 persen untuk ICU nya," katanya dalam konferensi pers di BNPB, Selasa (16/2/2021).

Meski tempat tidur isolasi dan ICU di rumah sejumlah rumah sakit terus ditambah, jika laju penularan dan angka kasus aktif COVID-19 masih tinggi, pelayanan pasien di fasilitas kesehatan dikhawatirkan akan terganggu.

Ada alasan mengapa keterisian tempat tidur di rumah sakit rujukan COVID-19 diharapkan di bawah 60 persen yang berkaitan dengan pelayanan pada pasien. Seperti yang diketahui, gejala COVID-19 pada beberapa orang bisa mengalami perburukan dalam waktu singkat. Penuhnya ICU bisa berdampak pada kondisi pasien itu sendiri.

"Kalau penuh, terutama ruangan untuk yang kritis itu penuh, maka orang pasien mau masuk ke sana tidak bisa. Makanya WHO meminta harus ada spare sehingga pasien yang dipindah dari gejala sedang ke berat atau kritis itu mudah," jelas dr Lia.

Saat ini pemerintah tengah memberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat berbasis mikro (PPKM). Selama penerapannya, beberapa rumah sakit memang terlihat mengalami penurunan dari segi ruang rawat inap. Namun dirinya belum bisa memastikan apakah hal tersebut berkaitan langsung dengan aturan PPKM.

"Saya rasa ini belum bisa dipastikan, karena biasanya dampak itu (terlihat) satu minggu-dua minggu, baru ada strategi baru," ucapnya.



Simak Video "Studi Inggris: Antibodi Bisa Bertahan 6 Bulan Pasca Terinfeksi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)