Rabu, 17 Feb 2021 14:50 WIB

Menkes Jelaskan Alasan Positivity Rate Cetak Rekor Usai Liburan

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kasus positif COVID-19 di Indonesia terus bertambah dan diprediksi tembus 1 juta kasus di tengah penerapan PPKM dan dicanangkannya vaksinasi virus Corona. Menkes mnejelaskan mengapa angka positivity rate cetak rekor tertinggi pasca liburan. (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut angka positivity rate kerap naik di masa liburan. Pola kenaikan angka positivity rate ini terus berulang saat liburan termasuk Imlek.

"Data positivity rate-nya selalu naik di saat liburan. Karena positivity rate itu adalah jumlah testing dengan perbandingan kasus, karena setiap hari libur jumlah testingnya turun, sehingga positivity ratenya naik," sebut Menkes Budi.

"Kebetulan di 4 hari terakhir ini liburannya panjang terkait Imlek maka positivity ratenya naik," lanjutnya.

Menurut Budi, kenaikan positivity rate juga tak berkaitan dengan tren peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia. Pasalnya, tren kasus Corona menurutnya selama beberapa pekan ke belakang sudah menurun.

"Tentu saja tidak (berkaitan dengan peningkatan kasus), karena sejak 4 minggu terakhir kasus konfirmasi sudah menurun.," beber Budi.

"Turunnya kasus konfirmasi dan turunnya pasien yang dirawat di RS, memang disebabkan karena laju penularannya berkurang dan kalau kita analisa memang itu disebabkan karena puncak dari laju penularan Nataru (Natal dan Tahun Baru) sudah dicapai," lanjutnya.

Menkes juga menyebut penurunan kasus COVID-19 pun berkaitan dengan penerapan PPKM yang berhasil membatasi mobilitas masyarakat pasca libur Natal dan Tahun Baru.

Bagaimana dengan angka positivity rate di hari biasa yang masih tinggi?

Meski begitu, Budi menjelaskan jika angka positivity rate di situasi normal, bukan di masa liburan, tetap masih tinggi. Hal ini kemungkinan disebabkan karena data negatif COVID-19 yang masih belum banyak diinput.

"Kami mengamati bahwa banyak data mengenai hasil tes pcr kalau itu sifatnya negatif belum langsung dikirim ke pusat sehingga data yang kami terima lebih banyak data yang positif," jelasnya.

"Karena jumlahnya begitu banyak dan sistem memasukkannya datanya masih rumit sehingga banyak lab yang memasukkan data positif dulu sehingga yang terpenting yang positif segera diisolasi," pungkasnya.



Simak Video "5 Negara Penyumbang WNA Positif COVID-19 Terbanyak di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)