Jumat, 19 Feb 2021 09:33 WIB

Uji Klinis Vaksin Nusantara dr Terawan Dibiayai Litbangkes Kemenkes RI

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
vaksin nusantara Vaksin Nusantara (Foto: Angling/detikHealth)
Jakarta -

Vaksin Nusantara berbasis sel dendritik yang diprakarsai mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto sudah menyelesaikan uji klinis Fase I. Melibatkan 27 relawan, peneliti menyebut tak ada efek samping serius yang dilaporkan.

"Ini selesai di akhir Januari. Proses fase dua setelah dapatkan persetujuan BPOM. Hasil Alhamdulillah dari 27 subyek, 20 keluhan ringan. Ada keluhan sistemik dan lokal. Hanya ada 20 keluhan. Ringan dan membaik tanpa obat. Sama kayak vaksin lain. Efektivitasnya ada peningkatan antibodi pada minggu keempat," kata Yetty di RSUP dr Kariadi Semarang, Rabu (17/2/2021).

Vaksin Nusantara yang nantinya akan menjalani uji klinis Fase II dengan melibatkan 180 relawan ini sebelumnya bekerja sama dengan Badan Litbangkes (Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) Kemenkes RI. Penelitian yang dilakukan didukung pembiayaannya oleh Litbangkes.

"Jawabannya iya kita yang membiayai," demikian konfirmasi Kepala Badan Litbangkes dr Slamet, MHP dalam konferensi pers FKUI terkait Studi Recovery di Indonesia Jumat (19/2/2021).

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito menyebut belum bisa menentukan kapan uji klinis Fase II vaksin Nusantara akan disetujui. Pasalnya, data uji klinis Fase I baru diterima BPOM.

"Kami baru menerima hasil uji klinik Fase I-nya, jadi masih dievaluasi oleh timnya direktur registrasi dari BPOM dengan tim ahli untuk kelayakannya apakah bisa segera kita keluarkan protokol untuk uji Fase II-nya ya karena hasil dari Fase I-nya baru kami terima," jelas Penny.

Bisakah sebenarnya teknologi dendritik digunakan untuk vaksin COVID-19?

Menurut ahli penyakit tropik dan infeksi dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Erni Juwita Nelwan, SpPD, sebetulnya vaksin dengan teknologi sel dendritik akan sangat rumit dipakai untuk vaksin COVID-19.

Di sisi lain, pembiayaan yang dikeluarkan dalam teknologi sel dendritik ini pun terbilang mahal.

"Bahwa dendritik sel itu memang akan teraktivasi pada sebagian besar infeksi virus," sebutnya.

"Tetapi kalau kita membuat dendritik sel ini sebagai basic untuk kemudian bisa menjadikannya sebagai vaksin saya rasa secara keilmuwan ini akan sangat luar biasa sulit dan mungkin bisa jadi mahal, itu dari sisi manufacturingnya, pembuatannya," lanjut dr Erni.

Begitu pula dengan saran dari pakar kesehatan Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, masyarakat diminta untuk tetap menunggu tahapan uji klinis vaksin Nusantara.

"Jadi sekali lagi buat masyarakat semua artinya dengan adanya vaksin Nusantara, kita tetap harus menunggu dari tahapan hasil uji klinis tersebut," pungkasnya.



Simak Video "Lihat Lagi Klaim Terawan Soal Vaksin Nusantara Diakui Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)