Jumat, 19 Feb 2021 22:07 WIB

UNS Kembangkan Plasmapheresis, Terapi Plasma COVID-19 Tanpa Perlu Donor

Bayu Ardi Isnanto - detikHealth
Reviono dari UNS di depan alat plasmapheresis, terapi untuk COVID-19 Reviono di depan alat plasmapheresis. (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikHealth)
Solo -

Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo tengah melakukan penelitian terapi pasien COVID-19 menggunakan alat plasmapheresis. Berbeda dengan terapi plasma konvalesen, metode ini dilakukan tanpa membutuhkan donor.

Dekan Fakultas Kedokteran UNS, Reviono, mengatakan telah menguji metode itu selama sembilan bulan. Menurutnya, keberhasilan terapi itu mencapai 70 persen.

"Keberhasilannya setara dengan plasma konvalesen, sekitar 70 persen untuk pasien gejala berat. Kalau untuk pasien kritis, di bawah itu," kata Reviono usai menerima kunjungan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy di RS UNS, Sukoharjo, Jumat (19/2/2021).

Dia menjelaskan terapi itu dilakukan hanya untuk pasien bergejala berat hingga kritis. Cara kerjanya ialah dengan membersihkan plasma darah yang kotor dan menambahkannya dengan albumin atau protein yang nantinya bisa membuat kekebalan tubuh.

"Pasien akan diambil plasmanya menggunakan plasmapheresis. Zat-zat yang berbahaya akibat infeksi COVID-19 dikeluarkan. Kemudian volume plasma yang keluar itu diganti albumin dan dimasukkan lagi ke dalam tubuh, jadi tidak perlu donor. Prosesnya selama empat jam," kata dia.

Direktur RS UNS, Hartono, proses setelah penelitian ini ialah melaporkan hasil riset. Jika lolos, dia berharap bisa segera masuk dalam protokol Kemenkes dalam penanganan COVID-19.

"Di RS UNS pakai plasma konvalesen dan plasmapheresis. Tapi yang plasmapheresis masih berbasis penelitian," kata Hartono.

Namun pasien yang menggunakan terapi ini tidak ditanggung oleh Kemenkes maupun BPJS Kesehatan. Biaya terapi mencapai Rp 25 juta.

Sementara itu, Menko PMK Muhadjir Effendy dalam kunjungannya sempat memuji plasmapheresis yang tengah diteliti UNS. Menurutnya, metode itu ialah terapi COVID-19 yang pertama di Indonesia.

"Plasmapheresis ini cara kerjanya beda dengan plasma konvalesen. Ini saya kira belum ada di Indonesia. Tapi masih harus uji klinis sampah betul-betul memenuhi standar Kemenkes," pungkasnya.



Simak Video "Hanya Mengingatkan! Hati-hati dengan Varian Mu"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)