Minggu, 21 Feb 2021 18:33 WIB

Eks Wasekjen MUI Meninggal Kena COVID-19, Waspadai Gejala Picu Kondisi Fatal

Ayunda Septiani - detikHealth
Ilustrasi pasien di rumah sakit Foto ilustrasi. (Foto ilustrasi: iStock)
Jakarta -

Mantan Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI) Nadjamuddin Ramly dikabarkan meninggal karena terinfeksi virus Corona COVID-19.

Kabar duka tersebut disampaikan oleh ketua MUI Cholil Nafis. Ia menyebut Nadjamuddin meninggal pada Sabtu (20/2/2021) malam.

"Ya (Nadjamuddin meninggal dunia). Beliau kena covid," kata Cholil lewat pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Minggu (21/2).

Nadjamuddin dimakamkan di Bandung. Cholil menyebut tidak ada prosesi pemakaman karena Nadjamuddin meninggal sebagai pasien COVID-19.

Saat seseorang terinfeksi COVID-19, ada beberapa faktor yang bisa memperparah gejala Corona bahkan dapat memicu kondisi fatal. Di antaranya, faktor usia lanjut, penyakit penyerta dan respons kekebalan tubuh.

Selain itu, adapun kondisi fatal yang disebabkan oleh happy hypoxia. Kondisi bisa terjadi saat pasien COVID-19 memiliki saturasi oksigen yang rendah, namun tidak mengalami gejala sesak napas.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) menyebut ada beberapa tanda atau gejala COVID-19 yang perlu diwaspadai karena memicu kondisi fatal hingga kematian.

Berikut tanda atau gejalanya:

  • Kesulitan bernapas
  • Nyeri atau tekanan yang terus-menerus di dada
  • Kebingungan
  • Ketidakmampuan untuk bangun atau tetap terjaga
  • Bibir, wajah, atau kuku kebiruan (kondisi ini bisa menunjukkan happy hypoxia).

Meski demikian, sejauh ini banyak pasien COVID-19 yang meninggal karena mempunyai penyakit penyerta. Hal ini dikarenakan sistem imun pada pasien COVID-19 yang memiliki penyakit penyerta cenderung lebih lemah, sehingga tidak mampu melawan infeksi virus Corona COVID-19.

"Jika sistem kekebalan tubuh tidak kuat, kemungkinan besar virus itu dapat berkembang biak di dalam paru-paru dan menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan parut. Sistem kekebalan akan melawannya dan menghancurkan jaringan paru yang sehat dalam prosesnya," jelas Dr Sarah Jarvis GP, Direktur Klinis Patient Access, dikutip dari The Sun.



Simak Video "Virus Corona Mengancam Kerusakan Otak"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/naf)