Minggu, 21 Feb 2021 20:30 WIB

Lagi, Pakar Ingatkan Ancaman Virus Nipah Jadi Pandemi Baru

Ayunda Septiani - detikHealth
Virus Nipah dikhawatirkan dapat jadi ancaman munculnya pandemi baru di dunia. Selain karena angka kematian yang tinggi, virus itu diketahui belum ada obatnya. Foto ilustrasi. (Foto ilustrasi: Ian Waldie/Getty Images.)
Jakarta -

Para ahli kembali mengingatkan potensi virus Nipah menjadi pandemi baru. Pasalnya, virus ini juga diketahui memiliki angka kematian yang tinggi sampai 75 persen.

Peringatan tersebut muncul seiring bertambahnya angka kematian di seluruh dunia yang disebabkan oleh pandemi COVID-19. Menurut pakar di University of Kentucky dari Departemen Biokimia Seluler, Dr Rebecca Dutch, Nipah merupakan virus yang bisa menjadi penyebab pandemi baru.

"Nipah merupakan salah satu virus yang bisa menjadi penyebab adanya pandemi baru," ujar Dutch, dikutip dari Express.

Menurutnya, penularan virus dari Nipah dapat terus meningkat dengan angka kematian sekitar 45 hingga 75 persen.

"Virus lainnya dari varian yang sama mudah menular, jadi terdapat kemungkinan varian Nipah bisa terus meningkat seiring bertambahnya penularan. Angka kematian dari virus ini sekitar 45 sampai 75 persen, tergantung pada wabahnya, jadi ini jauh lebih tinggi dari COVID-19," lanjutnya.

Dutch kemudian menjelaskan bahwa Nipah dapat menular melalui makanan serta kontak dengan manusia atau kotoran hewan. Sementara itu, masa inkubasi virus Nipah memakan waktu yang cukup lama, sehingga belum diketahui apakah penularan dapat terjadi di masa sekarang.

"Nipah telah terbukti dapat menular melalui makanan serta kontak dengan manusia atau kotoran hewan. Masa inkubasi untuk Nipah bisa memakan waktu cukup lama," jelas Dutch.

Menurut Dr Jonathan Epstein dari EcoHealth Alliance, Nipah dapat menular pada orang-orang yang terlibat dalam kontak jarak dekat dengan orang yang terinfeksi, khususnya orang yang memiliki masalah pernapasan, menular lewat droplet.

"Kami masih memiliki sedikit pengetahuan mengenai varian genetik virus Nipah yang ditemukan pada kelelawar, dan kami tidak ingin ini menular pada orang-orang. Sejauh ini, Nipah menyebar di antara orang yang berhubungan dekat dengan orang yang terinfeksi, terutama orang yang mengidap penyakit pernapasan, melalui droplet, dan secara umum kami tidak melihat adanya rantai penularan besar," kata Epstein.

Meski begitu, Epstein menjelaskan ketegangan mengenai virus ini tetap ada. Menurutnya, virus ini harus segera diteliti guna mengurangi adanya kemungkinan virus ini dapat terus menyebar ke manusia.

Di sisi lain, direktur penelitian dan pengembangan vaksin dari Coalition for Epidemic Preparedness, Dr Melanie Saville, mengatakan bahwa dunia harus tetap siap dan terus waspada. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah memasukkan virus Nipah ke dalam daftar yang harus segera diteliti.

Sebagai informasi, kelelawar buah merupakan sumber utama dari virus ini. Selain itu, virus Nipah dapat menular kepada manusia melalui hewan seperti kelelawar, babi, atau makanan yang terkontaminasi.

Virus ini juga bisa menular dari manusia ke manusia lain dengan angka kematian di antara 40 sampai 75 persen. Pada tahun 1999, wabah mematikan ini pernah menyerang Malaysia. Virus Nipah dapat menyebabkan masalah pernapasan serta pembengkakan otak. Hingga saat ini, belum ada vaksin maupun pengobatan untuk virus ini.



Simak Video "5 Fakta Virus Nipah yang Dikhawatirkan Jadi Pandemi Baru Asia"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/naf)