Senin, 22 Feb 2021 10:31 WIB

5 Fakta Vaksin Nusantara Undip, Vaksin Dendritik COVID-19 Besutan Terawan

Vidya Pinandhita - detikHealth
vaksin nusantara Vaksin Nusantara Undip besutan mantan Menkes Terawan menuai kritik. (Foto: Angling/detikHealth)
Jakarta -

Baru-baru ini, nama vaksin Nusantara Undip yang diprakarsai mantan Menteri Kesehatan Terawan mencuat. Lantaran berbasis sel dendritik, pengerjaan vaksin ini dinilai rumit dan mahal oleh sejumlah peneliti.

Berikut fakta-fakta seputar vaksin Nusantara Undip:

1. Awalnya bernama Vaksin Joglosemar

Sebelumnya, vaksin berbasis sel dendritik ini sudah pernah muncul pada Desember 2020 dengan nama 'Joglosemar'. Namun kini, jenis vaksin yang sama dimunculkan kembali dengan nama baru 'Nusantara'.

Vaksin Nusantara digarap oleh PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma). Humas Rama Pharma menyebut, teknologi dendritik didapat dari kerjasama dengan AIVITA Biomedical Inc. asal California, AS. Namun, produksi dan distribusinya dilakukan secara independen mengandalkan alat dan bahan yang dipasok sendiri.

Penelitian vaksin Nusantara dilakukan oleh peneliti dari RSUP dr Kariadi Semarang, Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Sebelas Maret (UNS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

2. Digagas di Era Menkes Terawan

Saat pertama kali muncul, 'Joglosemar' diklaim mendapat dukungan dari mantan Menteri Kesehatan waktu itu, Terawan Agus Putranto. Kini dalam rilis terbaru dari Rama Pharma, vaksin Nusantara disebut mendapat dukungan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes).

Humas Rama Pharma pada Jumat (19/2/2021) menyebut, pembiayaan uji klinis Fase 1 vaksin Nusantara ditopang oleh Balitbangkes. Hal tersebut telah dikonfirmasi oleh Kepala Balitbangkes dr Slamet MHK.

"Jawabannya iya kita yang membiayai," ujarnya dalam konferensi pers FKUI terkait Study Recovery di Indonesia, Jumat (19/2/2021).

3. Berbasis sel dendritik

Menurut klaimnya, sel dendritik adalah komponen sistem imun. Sel ini dikembangbiakan di luar tubuh, kemudian dijadikan vaksin COVID-19 dengan pembentukan antibodi.

Selain bersifat personalized dan individual, vaksin Nusantara diklaim efektif untuk segala usia mulai dari anak-anak, lansia, hingga orang dengan penyakit komorbid.

Lantaran diproduksi sendiri, vaksin Nusantara Undip ini diklaim bisa menggenjot kembali ekonomi Indonesia.

4. Sudah uji klinis Fase 1

Laporan terakhir, vaksin Nusantara masih menunggu hasil evaluasi uji klinis Fase 1 dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk bisa dilanjutkan ke Fase 2.

"Kami baru menerima hasil uji klinis Fase 1-nya, jadi masih dievaluasi oleh timnya direktur registrasi dari BPOM dengan tim ahli untuk kelayakan apakah bisa segera kita keluarkan protokol untuk uji Fase 2-nya karena hasil dari Fase 1-nya baru kami terima," ujar Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito turut menghadiri konferensi pers FKUI, Jumat (19/2/2021).

5. Panen kritik

Sejumlah peneliti menilai, penggunaan sel dendritik untuk vaksin COVID-19 dinilai terlalu rumit. Salah satunya, oleh ahli penyakit tropik dan infeksi dari Universitas Indonesia (UI) dr Erni Juwita Nelwan SpPD.

"Kalau kita membuat dendritik sel ini sebagai basic untuk kemudian bisa menjadikannya sebagai vaksin saya rasa secara keilmuan ini akan sangat luar biasa sulit dan mungkin bisa jadi mahal. Itu dari sisi manufacturingnya, pembuatanya," ujarnya.

Dalam klaimnya, vaksin Nusantara disebut bisa membentuk antibodi seumur hidup. Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban menyebutkan, hingga kini belum ada vaksin COVID-19 yang terbukti bisa melakukan hal tersebut. Apalagi, vaksin Nusantara ini belum melalui uji klinis Fase 2 dan 3.

"Vaksin Nusantara diklaim menciptakan antibodi seumur hidup. Mana buktinya?" ujarnya lewat akun Twitter @ProfesorZubairi, dikutip atas izin yang bersangkutan, Jumat (19/2/2021).



Simak Video "Vaksin COVID-19 Karya RI Pakai Sel Dendritik, Ini Cara Kerjanya"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)