Selasa, 23 Feb 2021 17:50 WIB

Satgas: Keterisian Tempat Tidur di Faskes Berhasil Berkurang Signifikan

Firdaus Anwar - detikHealth
Petugas merapikan tempat tidur untuk ruang perawatan pasien COVID-19 di RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) tipe D Teluk Pucung, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (3/2/2021). Pemerintah setempat mempersiapkan ruang tambahan di RSUD tipe D untuk ruang perawatan 100 pasien positif COVID-19. Angka keterisian tempat tidur RS dilaporkan berkurang. (Foto ilustrasi: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Banyaknya kasus COVID-19 yang membutuhkan perawatan sempat membuat angka tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di beberapa daerah Indonesia meningkat. Tingginya angka BOR tersebut bahkan sempat disebut membuat sistem kesehatan Indonesia terancam kolaps.

Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, melaporkan kabar kondisi BOR yang tinggi kini sudah berhasil ditekan. Hal ini terjadi di seluruh provinsi yang melaksanakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Ada tujuh provinsi yang data BOR-nya diambil yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Bali, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

"Keterisian tempat tidur pada saat ini seluruhnya mengalami penurunan jika dibandingkan sebelum PPKM. Penurunan paling signifikan terjadi di Jawa Tengah, dari 74,9 persen sebelum PPKM menjadi 35,76 persen per tanggal 19 Februari," kata Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB, Selasa (23/2/2021).

"Penurunan BOR yang terjadi di tujuh provinsi yang melaksanakan PPKM ini merupakan perkembangan yang perlu kita apresiasi bersama," lanjutnya.

Wiku mengingatkan agar daerah memastikan penurunan BOR terjadi karena kasus pasien COVID-19 yang membutuhkan perawatan benar-benar berkurang. Jangan sampai angka BOR turun karena banyak pasien yang butuh perawatan tidak terdeteksi.

"Adanya penurunan keterpakaian tempat tidur perlu diperhatikan lebih lanjut. Apakah karena pasien positif dengan gejala sedang-berat yang semakin berkurang atau orang yang membutuhkan pelayanan kesehatan belum atau tidak terjaring sejak dini sehingga tidak dirawat di rumah sakit," pungkas Wiku.



Simak Video "Jangan Biarkan Jerih Payah Lawan Corona Selama 8 Bulan Sirna"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)