Minggu, 28 Feb 2021 06:32 WIB

Pengalaman Suntik Vaksin COVID-19, Tak Seseram yang Dibayangkan

Vidya Pinandhita - detikHealth
Program vaksinasi COVID-19 bagi tenaga kesehatan masih terus berjalan. Pemprov DKI Jakarta gelar vaksinasi massal di Istora Senayan, Jakarta. Ilustrasi vaksin COVID-19 (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta -

Berbagai kabar soal efek samping vaksin COVID-19 ditambah ketakutan pada jarum suntik membuat saya sempat berpikir dua kali untuk divaksin. Namun dengan pertimbangan vaksinasi disebut penting untuk membentuk kekebalan kelompok, mau tak mau rasa takut mesti dilawan.

Saya termasuk dalam 5.500 jurnalis dan awak media yang mendapat prioritas vaksinasi tahap kedua. Physical distancing, pakai masker, sampai rajin cuci tangan tentu selalu diupayakan. Namun, aktivitas liputan tak jarang mempertemukan saya dengan kerumunan.

Bukan tertular yang saya khawatirkan, tapi menularkan. Sudahlah, tak ada pilihan selain 'nurut' pada anjuran vaksinasi.

Vaksinasi COVID-19 untuk wartawan diselenggarakan oleh Dewan Pers pada 25-27 Februari 2021 di Hall A Basket Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat. Kami yang sudah mendaftar diharap hadir sesuai hari dan jam yang telah ditetapkan.

Saya pikir, ribuan wartawan berkerumun mengantre untuk suntik vaksin bakal jadi kisah horor. Rupanya, situasi di lapangan tidak seseram itu. Saat mengantre di pintu masuk, saya dan beberapa wartawan lain diminta menjaga jarak. Kursi-kursi yang disediakan di ruang tunggu pun berjarak sekitar 1 meter.

Setelah verifikasi data, saya diarahkan ke meja skrining untuk cek tekanan darah dan menjawab sejumlah pertanyaan. Sedikit tegang karena saya cenderung punya tensi rendah. Khawatir sudah jauh-jauh ke GBK, saya batal divaksin karena masalah tensi.

Sejumlah pekerja media mendapatkan vaksin COVID-19. Proses vaksinasi dilakukan di Hall A Senayan, Jakarta.Suasana vaksinasi COVID-19 untuk awak media di Hall Basket Senayan, Jumat (26/2/2021). Foto: Grandyos Zafna

Beberapa hari sebelum vaksinasi, saya diingatkan untuk makan dan istirahat cukup. Memang untuk bisa divaksin, seseorang harus benar-benar fit.

Menyadari ada masalah dengan tensi darah, saya betul-betul menuruti anjuran ini. Semalam sebelum disuntik, saya sengaja makan sate kambing. Saya tahu ini cuma mitos, tapi ya kadang-kadang butuh sugesti positif untuk menenangkan diri.

"Mbak orang ke-1.500 hari ini," kata petugas kesehatan sembari memompa alat ukur tensi. Saya mengangguk.

Di meja yang sama, petugas lain memberikan sejumlah pertanyaan untuk memastikan saya tidak sedang mengalami penyakit berat. Pertanyaannya seputar ada-tidaknya penyakit jantung, ginjal, kanker, aids, pernapasan, atau gangguan pencernaan.

Jelas, semua pertanyaan saya jawab "tidak". Selain karena tidak mengalami gejala apa pun, saya tidak ingat kapan terakhir saya medical check up. Jangan-jangan, lebih tepatnya jawaban saya bukan "tidak", melainkan "tidak tahu".

Yang saya bingung, bagaimana dengan penyakit-penyakit ringan yang lebih umum dialami sehari-hari? Jika dalam 1 - 2 minggu terakhir mengalami masuk angin, misalnya, apakah vaksin COVID-19 akan berefek samping?

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Apakah Tubuh Jadi Kebal COVID-19 Setelah Divaksin? "
[Gambas:Video 20detik]