Selasa, 02 Mar 2021 07:26 WIB

Kenapa Banyak Orang Lebih Memilih Pengobatan Sendiri?

Vidya Pinandhita - detikHealth
An Asian girl is indoors in a hospital room. She is wearing casual clothing. An Asian female doctor wearing medical clothing is checking her heartbeat with a stethoscope. Lebih banyak orang pilih pengobatan sendiri (Foto: iStock)
Jakarta -

Jumlah masyarakat yang sulit mengakses fasilitas kesehatan karena keterbatasan layanan disebut tak kunjung menurun. Namun kini seiring pandemi, jumlah akses masyarakat justru makin menurun karena takut akan risiko tertular COVID-19 di rumah sakit atau puskesmas.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Daeng M Faqih, SH. MH menjelaskan bahwa menurut data, jumlah masyarakat berobat di fasilitas layanan kesehatan yang tersedia memang berkurang.

Akan tetapi, hal tersebut bukan disebabkan tingkat kesehatan yang membaik, melainkan semakin banyak masyarakat yang memutuskan untuk 'berobat sendiri' di rumah. Menurutnya, hal ini disebabkan rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya layanan kesehatan.

"Dari Sabang sampai Merauke, masih ada kesulitan akses (pelayanan kesehatan). Ada data, saya juga kaget, bahwa pemilihan layanan kesehatan oleh masyarakat Indonesia masih banyak yang pilihannya melakukan pengobatan sendiri. Akses terhadap layanan kesehatan (menurun) di samping disparitas, ternyata pilihan layanan kesehatan masih sangat rendah," terangnya dalam diskusi online, Senin (1/3/2021).

Menurutnya, jelas peningkatan layanan kesehatan adalah solusi utama. Melihat sulitnya akses ke layanan kesehatan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat kota, akses layanan kesehatan perlu diperbaharui agar lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.

Teknologi sebenarnya mampu mengatasi masalah tersebut. Namun persoalannya, belum semua dokter memahami fungsi dan urgensi layanan kesehatan online.

"Konsultasi dan bertanya pada dokter seputar masalah kesehatan. Sekarang mulai terbiasa. Masih ada dokter yang secara teknologi belum tersentuh. Tapi alhamdulillah sekarang mulai banyak," imbuh dr Daeng.



Simak Video "Klaster Keluarga Jadi Sumber Penularan Corona Pada Anak"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)