Selasa, 02 Mar 2021 11:17 WIB

Setahun Corona RI

Kontroversi 'Obat COVID-19' RI, Antibodi Hadi Pranoto hingga Kalung Eucalyptus

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Hadi Pranoto menunjukkan ramuan herbal untuk antibodi COVID-19. Ramuan itu disebut mampu tingkatkan antibodi dalam mencegah penyebaran COVID-19. Ramuan obat herbal yang diklaim sebagai obat COVID-19. (Foto: ANTARA FOTO/ARIF FIRMANSYAH)
Jakarta -

Tepat setahun Corona mewabah di Indonesia. Selama itu pula berbagai inovasi pengobatan COVID-19 bermunculan di Tanah Air.

Namun, tidak semua inovasi mendapat sambutan positif. Ada yang menuai kontroversi karena menyertakan klaim yang berlebihan, ada juga yang dibumbui teori-teori fiktif seperti 'serum antibodi' Hadi Pranoto.

Dirangkum detikcom, berikut berbagai klaim kontroversial terkait pengobatan COVID-19 di Indonesia.

1. Serum antibodi 'Profesor' Hadi Pranoto

September 2020, musisi Anji bikin heboh lewat wawancaranya dengan seorang pria yang mengaku sebagai profesor mikrobiologi, Hadi Pranoto.

Dalam wawancara tersebut, Hadi mengaku telah mengembangkan serum antibodi COVID-19 yang dapat menyembuhkan ribuan pasien Corona. Obat ini merupakan produk Bio Nuswa dan disebut telah mendapat izin edar dari BPOM.

Namun, pihak Bio Nuswa membantah bahwa produknya dapat menyembuhkan pasien Corona. Mereka menyebut produk ini hanya untuk membantu memelihara daya tahan tubuh.

"Klaim untuk produk "BIO NUSWA"dengan Nomor Izin Edar POM TR203636031 yang kami daftarkan yaitu "Membantu memelihara daya tahan tubuh, bukan menyembuhkan pasien yang terpapar virus COVID-19 seperti di beberapa pemberitaan belakangan ini," sebut rilis yang diterima detikcom Rabu (5/8/2020).

2. Kalung 'antivirus' eucalyptus

Selain serum antibodi COVID-19 Hadi Pranoto, kalung 'antivirus' eucalyptus buatan Kementerian Pertanian (Kementan) pun sempat menuai kontroversi.

Pasalnya, kalung ini diklaim bisa membunuh virus Corona. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pernah mengatakan bahwa pemakaian kalung eucalyptus selama 15 menit dapat membunuh 42 persen virus Corona, sementara pemakaian 30 menit bisa membunuh 80 persen virus Corona.

Meski begitu, menurut Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Dr dr Inggrid Tania, MSi, kalung eucalyptus buatan Kementan belum diuji secara spesifik terhadap SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19.

"Penelitian Kementan ini baru diujikan sampai tahap in vitro pada virus influenza, beta corona, gamma corona. Belum diuji spesifik terhadap virusnya COVID-19 yakni virus SARS-CoV-2," jelas dr Inggrid.

Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Kementerian Pertanian, Indi Dharmayanti, mengatakan riset tentang kalung ini masih panjang. Ia pun beralasan klaim sebagai antivirus bukanlah berasal dari peneliti.

Selain mengembangkan kalung eucalyptus, Kementan juga mengembangkan roll on dan inhealer eucalyptus. Keduanya terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai obat tradisional kategori jamu.

Selain itu, ada kombinasi obat Unair yang juga diwarnai kontroversi. Klik halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Pfizer Klaim Obat Covid-19 Buatannya Turunkan Rawat Inap-Kematian"
[Gambas:Video 20detik]