Selasa, 09 Mar 2021 07:11 WIB

Round Up

Jalan Berliku Vaksin Nusantara: Digagas dr Terawan, Ditinggal FK-KMK UGM

Vidya Pinandhita - detikHealth
vaksin nusantara Riset vaksin Nusantara (Foto: Angling/detikHealth)
Jakarta -

Nama vaksin Nusantara sempat menggema lantaran menggunakan teknologi dendritik untuk COVID-19, diklaim sebagai yang pertama di dunia. Vaksin yang digagas dr Terawan Agus Putranto ini kembali jadi perbincangan setelah tim FK-KMK UGM memutuskan mundur dari tim riset. Sejak awal, perjalanan risetnya banyak diwarnai kontroversi.

Klaimnya, vaksin ini merupakan kerja bareng Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan RSUP dr Kariadi Semarang dan mendapat dukungan dari Kementerian Kesehatan.

Lantas, apa yang terjadi sehingga FK-KMK UGM memilih mundur? Berikut riwayat perjalanan berliku vaksin nusantara:

1. Awalnya bernama 'vaksin Joglosemar'

Pada Desember 2020, vaksin ini muncul dengan nama 'Joglosemar', digarap oleh PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma) bekerja sama dengan AIVITA Biomedical Inc, perusahaan asal AS selaku pemasok teknologi dendritik.

Belakangan, jenis vaksin yang sama mendadak muncul kembali dengan nama baru, yakni vaksin Nusantara. Masih membawa klaim keunggulan yang sama, yakni penggunaan basis sel dendritik pertama di dunia yang nilai plusnya, bisa menciptakan antibodi seumur hidup.

2. Digagas Menkes Terawan

Perjalanan riset vaksin ini bermula pada November 2020. Saat itu, dr Terawan Agus Putranto masih menjabat sebagai Menkes. Pembicaraan awal riset ini juga melibatkan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) dr Slamet, MHP.

Kepala Balitbangkes dr Slamet MHK pada Jumat (19/2/2021) membenarkan, pihaknya memang membiayai uji klinis Fase 1 vaksin Nusantara.

3. Menuai banyak kritik

Pada Februari 2021, pihak Rama Pharma mengumumkan, vaksin Nusantara sudah lolos uji klinis Fase 1 dan sedang menunggu hasil evaluasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk dilanjutkan ke uji klinis Fase 2.

Sementara itu pada Jumat (19/2/2021) kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito menyebut, pihaknya baru menerima hasil uji klinis Fase 1 sehingga belum bisa memberikan kabar lebih lanjut soal uji klinis vaksin Nusantara.

Sejumlah ahli menilai, penggarapan vaksin ini tak akan efektif lantaran penggunaan dendritik sebagai basis vaksin dinilai terlalu rumit dan akan memakan biaya besar.

Salah satunya, ahli penyakit tropik dan infeksi dari Universitas Indonesia dr Erni Juwita Nelwan SpPD menyebut, proses manufacturing (pembuatan) vaksin Nusantara ini akan amat sulit.

Bagaimana akhirnya vaksin nusantara ditinggal tim FK-KMK UGM? Selengkapnya di halaman berikut.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Serba-serbi Vaksin Nusantara Besutan Eks Menkes Terawan"
[Gambas:Video 20detik]