Selasa, 09 Mar 2021 17:58 WIB

Satgas Ingatkan Siapa Saja Bisa Kena 'Long COVID', Termasuk yang Muda-muda

Vidya Pinandhita - detikHealth
Petugas medis menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) memeriksa kondisi pasien COVID-19 yang berstatus OTG (Orang Tanpa Gejala) saat kegiatan berjemur dan olahraga di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Senin  (21/12/2020). Kegiatan pemeriksaan kesehatan, berjemur dan berolahraga tersebut rutin dilakukan setiap pagi hari untuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien yang menjalani isolasi. Satgas COVID-19 menyebut, anak muda bisa mengalami long COVID. (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Fenomena 'Long COVID' tak hanya dialami lansia atau orang dengan riwayat penyakit komorbid, namun juga usia muda tanpa penyakit komorbid.

Umumnya, pasien COVID-19 sembuh dalam waktu 2 - 6 minggu. Namun juru bicara Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menjelaskan, pada kasus long COVID, pasien mengalami gejala berkepanjangan meski tes COVID-19 sudah menunjukan hasil negatif.


"Saya berharap masyarakat bisa lebih waspada. Long COVID ini tidak hanya dirasakan oleh mereka yang menderita komorbid, tapi juga mereka yang cukup muda, bahkan yang tidak menderita komorbid apapun," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Selasa (9/3/2021).

Ia turut menyebutkan, gejala long COVID seringkali berupa kelelahan, kesulitan bernapas, batuk, sakit persendian, dan sakit dada.

Namun kini, gejala-gejala lain turut dilaporkan seperti kesulitan berpikir dan berkonsentrasi (brain fog), depresi, sakit pada otot, sakit kepala, demam, dan jantung berdebar.

Prof Wiku menekankan, fenomena long COVID ini tidak perlu ditakuti secara berlebihan lantaran gejala berkepanjangannya tidak menular. Namun tetap, protokol kesehatan wajib dikedepankan sebab infeksi virus pada dasarnya dapat dicegah.

"1 per 5 orang menderita gejala berkepanjangan setelah menderita COVID-19. Saya harap bisa dijadikan catatan, mereka yang menderita long COVID tidak menularkan virus COVID-19 kepada orang-orang di sekitarnya," imbuhnya.

Prof Wiku menambahkan, hingga kini, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan jenis-jenis gejala dan durasi kasus long COVID.

Sebab seiring waktu, laporan terkait komplikasi medis berkepanjangan akibat COVID-19 terus bermunculan. Seperti masalah jantung, kerusakan ginjal, masalah indera penciuman dan perasa, bahkan hingga gatal-gatal dan rambut rontok.



Simak Video "Temuan WHO: Seperempat Penyintas Corona di Dunia Alami Long Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)