ADVERTISEMENT

Kamis, 11 Mar 2021 18:24 WIB

Fakta-fakta Mutasi N439K yang Sudah Masuk RI, Lebih 'Smart' Lawan Antibodi

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
United Kingdom, British flag on the COVID-19, coronavirus, virus one side is dark, one side is bright Ilustrasi mutasi virus Corona. (Foto: Getty Images/iStockphoto/s-cphoto)
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, Indonesia mengumumkan adanya temuan kasus varian baru virus Corona Inggris yaitu B117 yang lebih menular. Selain varian B117 ini, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga mewaspadai varian baru lainnya yang mengandung mutasi N439K, disebut lebih 'pintar' dalam menghadapi antibodi dan sudah menyebar di 30 negara.

Menurut Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Prof Amin Subandrio, sudah ada 48 kasus mutasi N439K yang ditemukan dari 547 sampel yang disequens dan dikirimkan ke bank data GISAID.

"Jadi dari 547 sequens yang sudah dilaporkan ke GISAID, itu ada 48 yang membawa mutasi tadi N439K di Indonesia," ungkapnya kepada detikcom Kamis (11/3/2021).

"Kalau dilaporkannya sih baru-baru saja di bulan Maret, tapi isolatnya sendiri ada beberapa yang dari tahun lalu, akhir Desember 2020," lanjutnya.

Apa itu N439K?

Dikutip dari Eurekalert, N439K ini merupakan mutasi yang terjadi pada protein spike virus Corona yang penyebarannya mirip dengan virus liar dan bisa mengikat reseptor enzim 2 (ACE2) pengubah angiotensin pada manusia lebih kuat.

Di mana mutasi N439K pertama kali dideteksi?

N439K menjadi mutasi yang paling umum dominan kedua dalam receptor binding domain (RBD). Mutasi ini pertama kali terdeteksi di Skotlandia pada Maret 2020 lalu.

Sejak saat itu, garis keturunan kedua (B1258) muncul secara independen di negara-negara Eropa lainnya pada Januari 2021 dan menyebar ke 30 negara di dunia.

Benarkah bisa melawan antibodi?

Penelitian yang dipublikasi di jurnal Cell pada 25 Januari lalu menunjukkan bahwa mutasi ini memberikan resistensi terhadap antibodi beberapa individu dan antibodi monoklonal.

"Ini berarti virus memiliki banyak cara untuk mengubah domain imunodominan untuk menghindari kekebalan sekaligus mempertahankan kemampuan untuk menginfeksi dan menyebabkan penyakit," kata penulis penelitian sekaligus Direktur Senior Biologi Struktural di Vir Biotechnology Gyorgy Snell.

"Temuan penting dari penelitian ini adalah tingkat variabilitas yang ditemukan dalam motif pengikatan reseptor imunodominan (RBM) pada protein spike," lanjutnya.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT