Selasa, 16 Mar 2021 17:02 WIB

Keren, Mahasiswa Semarang Bikin Alat Tes Diabetes Tanpa Keluar Darah

Angling Adhitya Purbaya - detikHealth
alat tes diabetes dari udinus semarang Alat tes diabetes tanpa keluar darah (Foto: Angling/detikHealth)
Semarang -

Empat mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang menciptakan alat untuk mendeteksi tingkat diabetes melitus dengan sensor cahaya. Mereka pun mendapatkan medali emas dalam ajang Asean Innovation Science and Entrepreneur Fair 2021.

Mereka adalah mahasiswa Fakultas teknik program studi S-1 Teknik Biomedis dengan ketua Diana Almaas Akbar Rajah, wakil ketua Annelicia Eunice Arabelle, Nadiya Nurul, dan Kevin Tedjasukmana. Para pembimbing yaitu Kaprodi S-1 Teknik Biomedis, Dr.Aripin. M.Kom dan Sari Ayu Wulandari S.T., M.Eng.

Alat yang diciptakan bernama Gluconov. Saat ini alat tersebut berbentuk kubus kecil dengan lubang untuk memasukkan jari di atasnya. Dengan sensor cahaya, alat ini tidak lagi menggunakan darah sehingga penderita diabetes tidak perlu menusukkan jarum ke jari saat akan cek kadar gula dalam darah.

"Ini non-invasif atau tidak membutuhkan luka dalam proses pendeteksiannya. Kan kasian kalau sudah sakit diabetes mblonyok kalau diambil darah pakai jarum. Pakai alat ini juga meminimalisir limbah medis," kata ketua tim, Diana saat ditemui di kampus Udinus, Senin (16/3/2021).

alat tes diabetes dari udinus semarangPara majasiswa Udinus yang mengembangkan alat tes diabetes. Foto: Angling/detikHealth

Gluconov memang menyasar digunakan untuk pasien diabetes melitus yang harus rutin cek kadar gula dalam darah. Akurasinya disebut mencapai 95 persen. alat itu menggunakan Rangkaian sensor (spektrofotometri) memiliki komponen utama LED putih, Light Dependent Resistor (LDR), keping polikarbonat (CD), dan motor dengan mikrokontroler ESP32.

Cara kerjanya yaitu ketika jari dimasukkan ke dalam lobang alat, LDR akan bekerja mendeteksi perubahan intensitas cahaya yang dimiliki oleh darah akibat dari paparan 5 jenis cahaya tampak. Perubahan tersebut dihasilkan oleh pembiasaan cahaya putih dengan keping polikarbonat. Dalam menghasilkan warna yang beragam, mereka menggunakan penggerak otomatis berupa motor kecil yang tiap pergerakannya dapat merubah posisi sudut keping polikarbonat sebanyak 30 derajat.

Kemudian Hasil deteksi dari proses tersebut akan berupa sinyal analog, kemudian dikonversikan melalui alat bernama Analog to Digital Convertion (ADC). Setelah proses konversi dilanjutkan mencari karateristik dan ekstraksi menggunakan teknik PCA. Dari hasil tersebut akan menghasilkan dua indikator yakni high dan low.

"Jadi ada cahaya nanti cahayanya dipilah menjadi mejikuhibiniu begitu kemudian diukur serial. Merah berapa, kuning berapa, dan seterusnya kemudian dimasukkan algoritma," jelas pembimbing, Sari Ayu.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Indonesia Masuk Tiga Besar Negara dengan Angka Prediabetes Tinggi"
[Gambas:Video 20detik]